Catatan Perjalanan Hati 2025 (Part 5)

Ahad, 6 April 2025

Beberapa waktu yang lalu, saya baca di thread ada seseorang yang menulis mengenai pemilihan hotel saat umrah mandiri dan mewanti-wanti dengan agak keras (berdasarkan persepsi saya ya, karena itu murni tulisan) untuk tidak memilih hotel di area misfalah. Alasannya karena daerah ini sering mengalami buka-tutup jalan pada saat mendekati waktu sholat, dan itu merepotkan jamaah karena harus mengambil jalan memutar yang cukup jauh.

sederetan hotel yang menjadi background foto ini masuk ke dalam area misfalah

Jujur, pada saat membaca itu saya sedih, namun cukup menghela napas saja tanpa ingin beradu argumen. Saya baca beberapa komentar yang masuk, tentunya banyak yang bertanya alasannya, kemudian dilanjutkan dengan bertanya mengenai lokasi mana yang aman dari buka-tutup jalan. Hampir semua dijawab dengan rekomendasi hotel di sekitaran pelataran Masjidil Haram, dengan dasar utama adalah buka-tutup jalan. Hanya itu, tanpa melihat kontur tanah, tanpa melihat akses ke kios/kedai makanan, tanpa melihat apakah melewati jalan besar dengan kendaraan cepat yang tentunya juga berisiko—bagi teman-teman yang sudah pernah ke Makkah dan sekitarnya dan pernah berkendara dengan taksi, tentu memahami apa yang saya maksud dengan risiko itu, mengingat supir taksi di sana gaya menyetirnya lumayan ugal-ugalan.

Hotel yang saya tempati bersama suami adalah Emaar Al Manar, terletak di Ibrahim Al Khalil Street, Misfalah, jaraknya sekitar 800 meter dari pelataran Masjidil Haram. Jauh? Menurut kami sama sekali tidak. Dari hotel ke pelataran masjid hanya butuh waktu sekitar 16 menit berjalan kaki, ditambah sekitar 5 menit jika ingin melanjutkan ke area mataf. Pernah mengalami penutupan jalan? Pernah, hanya beberapa kali, itu pun bukan harus memutar yang jauh, hanya perlu geser 1 blok bangunan. Yang tadinya bisa lewat dari sisi kanan Makkah Tower (dan sederetan Elaf Kinda Hotel seperti yang sudah sering saya sebut di awal—jalan favorit) bergeser menjadi sebelah kiri Makkah Tower. Hanya itu. Selebihnya sangat aman dan nyaman. Selain itu, Ibrahim Al Khalil street, terutama yang masuk dalam ring 2 Masjidil Haram, merupakan area padat pejalan kaki. Pada jam tertentu kendaraan tidak diperbolehkan melintas, banyak penjual makanan dan toko-toko pakaian, apotek, jus, toko buah, dan sebagainya. Sebagai pelaku umrah mandiri tentunya ini sangat penting, mengingat kapan saja membutuhkan sesuatu, kita tidak harus berjalan jauh untuk mencarinya.

Tapi setelah coba saya cermati lebih dalam, sepertinya ada alasan yang jauh lebih fundamental mengenai mengapa saya dan suami sama sekali tidak merasa hotel di area Misfalah ini tidak nyaman, atau aksesnya sulit, dan sebagainya. Sepertinya—semoga Allah SWT menjauhkan kami dari sifat riya’—bisa jadi karena memang sejak awal kami memusatkan fokus kegiatan pada ibadah di Masjidil Haram secara langsung, secara terus menerus, tanpa terputus. Alhamdulillah, Allah SWT memberi banyak kemudahan kepada kami hingga kami tidak pernah mengalami penutupan jalan yang ekstrem sampai  harus memutar jauh, kami tidak pernah sekalipun sholat fardhu berjamaah di luar bangunan masjid kecuali saat sholat jumat yang saya ceritakan di hari ke 3 perjalanan ini, kami tidak pernah masih sibuk mencari shof shalat sementara iqamah telah berkumandang. Ohh,. Allah,. Kalau diingat-ingat lagi sungguh nikmat melaksanakan ibadah saat berada di tanah haram-Mu.

Kami punya jadwal untuk bangun jam 2 pagi waktu setempat setiap harinya,  menyegerakan mandi—akhirnya saya paham kenapa water heater itu sangat penting di kamar mandi!!!—kemudian bergegas ke Masjid. Tidak ada penutupan jalan, tidak ada barikade berjejer, semua aman. Setiap hari  kami berupaya untuk mengawali hari dengan thawaf sunnah di area mataf sehingga Mas selalu berpakaian ihram. Masih menjadi perdebatan mengenai penggunaan kain ihram bagi jamaah laki-laki yang bukan sedang menjalankan ibadah umrah, tapi kami memilih tetap memakainya hanya untuk rangkaian ibadah dini hari hingga waktu syuruq/dhuha tiba.

Kami kembali ke hotel sekitar jam 7 pagi bertepatan dengan restoran hotel yang sudah buka untuk sarapan, karena kami memang mengambil paket kamar hotel termasuk dengan sarapan. Selepas sarapan, kami kembali ke kamar dan melanjutkan istirahat hingga sekitar jam 10 siang. Kemudian kembali bersiap ke Masjid untuk ibadah dhuhur, dilanjut cari makan siang di sekitaran Masjidil Haram. Kegiatan di sekitar Masjid ini berlangsung hingga ashar, maghrib, dan isya. Selepas isya, kami akan kembali ke hotel, sambil berbelanja makanan untuk makan malam. Begitu tiba di hotel, makan, mandi, dan istirahat, untuk selanjutnya bersiap memulai kembali ibadah pada dini hari. Yapp, jadwal ini memang sudah kami susun sedemikian rupa, cukup padat, namun kami berupaya untuk benar-benar memanfaatkan waktu dengan baik dan disiplin, menghidupkan alarm di waktu yang tepat, dan tentunya berjuang sekuat tenaga untuk melawan rasa malas dan kantuk. Hari pertama memang terasa sangat berat, namun alhamdulillah Allah SWT mudahkan semua di hari-hari selanjutnya hingga kami benar-benar terbiasa.

Menginjak hari ke empat di tanah haram, setelah melaksanakan sholat dhuhur berjamaah di Masjidil Haram, untuk pertama kalinya kami memutuskan masuk ke Zamzam Tower/Clock Tower/Abraj Al Bait. Berdasarkan rekomendasi seorang teman di komunitas UM, nasi biryani dan ayam panggang di Chick Mix sangat recommended. Well, karena kami tidak punya banyak referensi terkait makanan, jadilah kami coba saja. Beruntungnya tidak sulit menemukan area food court yang terletak di lantai 1 itu. Kami mencoba menu rekomendasi itu, namun sepertinya saya dan Mas sudah benar-benar jatuh cinta dengan resto bangladesh yang menjual menu dan porsi yang kurang lebih sama, dengan harga 25 SAR sedangkan di Chick Mix harganya 35 SAR. Setengah ekor ayam panggang terdiri dari paha dan dada, serta satu porsi nasi biryani yang sangat cukup untuk makan berdua, bahkan bertiga. Makan siang itu tidak bisa kami habiskan langsung, jadilah kami memutuskan untuk membungkusnya untuk tambahan menu makan malam nanti.


ada sebuah stand dengan nama Al Rifai jadi harus diabadikan

Kami sempat mencari informasi mengenai jalan ke Pemakaman Ma’la (Jannatul Mua’lla). Agak sedih saat bertanya ke teman-teman di komunitas Umrah Mandiri, karena masih banyak yang tidak tahu mengenai Pemakaman Ma’la, padahal menurut kami ini adalah salah satu lokasi ziarah yang penting. Di pemakaman ini, Sayyida Khadijah Radhiyallaahu ‘Anha dimakamkan, di pemakaman ini, KH. Maimum Zubair, salah satu ulama besar Indonesia dimakamkan, dan di pemakaman ini juga, Kakek saya dari Mama dimakamkan. Seseorang yang sempat membersamai masa kecil saya, seorang Kakek yang cukup jenaka yang saat tertawa tinggi alis kanan dan kirinya bisa berbeda, yang saya masih ingat betul, dari beliaulah saya pertama kali tahu mengenai sujud tilawah/sujud sajadah. Allahu yarham. Akhirnya kami memutuskan ziarah ke Pemakaman Ma’la ini masuk dalam agenda wajib.

petunjuk arahnya semacam ini, sangat terbaca dengan jelas

Berbekal informasi dari Deden, mas Andi, serta cek rute menggunakan aplikasi Google Map, kami menuju ke Pemakaman Ma’la tepat setelah shalat ashar di Masjidil Haram, dengan berjalan kaki tentunya. Petunjuk utamanya adalah menuju pintu keluar jalur Sa’i (dekat bukit Marwah), kemudian terus mengikuti jalan yang mengarah ke terminal Syib Amir. Titik tujunya adalah Masjid Al Jinn, karena Pemakaman Ma’la terletak tepat di belakang masjid tersebut. Ternyata saat memperhatikan dengan lebih detail, petunjuk arah menuju Masjid Al Jinn cukup jelas, dan kami sempat melewati counter Lost and Found yang terletak tepat sebelum terminal Syib Amir. Sempat terpikir untuk singgah dan bertanya mengenai microphone yang hilang pada hari sebelumnya, namun kami batalkan karena ternyata antrean cukup panjang.


Alhamdulillah, meskipun sempat memutar karena kami mencari Masjid Al Jinn terlebih dahulu sebagai patokan, akhirnya kami berhasil tiba di Pemakaman Ma’la. Ternyata banyak juga peziarah yang datang meskipun hanya bisa berdiri di luar pagar dan mengirim doa secara umum ke seluruh ahlul kubur yang dimakamkan di sana. Tidak lupa saya juga mengabarkan ke Mama bahwa kami sore itu berada di pemakaman Ma’la, dan secara khusus mengirim doa utk Almarhum Kakek. Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afi'hi wa’fu’anhu.

Masjid Al Jinn dan Pemakaman Ma’la terletak di sisi utara kompleks Masjidil Haram, tepatnya Masjidil Haram Road. Lagi-lagi menurut saya ini adalah area yang kurang populer bagi jamaah Indonesia, karena saat berada di sana sama sekali tidak kami temui jamaah asal Indonesia berlalu lalang. Mungkin ada, tapi tidak banyak. Meskipun wilayah ini menurut saya cukup menarik, lokasinya tidak terlalu jauh dari kompleks Masjidil Haram, jalannya datar, banyak penjual makanan dan toko oleh-oleh. Bisa jadi referensi untuk perjalanan selanjutnya, InsyaAllah. Saya sempat terpikir untuk mengambil jalan berbeda saat akan kembali ke pelataran Masjidil Haram, inginnya bisa melewati jalan memutar, mengambil sisi barat  kemudian melewati area Jarwal seperti saat pertama kali kami tiba di Makkah. Namun kami urungkan karena belum terbayang akan sejauh apa, ditambah kami tidak ingin melewatkan shalat maghrib berjamaah.




Sepanjang perjalanan pulang, selain berpapasan dengan para pekerja proyek perluasan Masjidil Haram, banyak juga penjaja makanan dan pakaian, serta pernah-pernik oleh-oleh khas Umrah.  Mas membeli kurma satu toples dengan harga 5 SAR yang menurut kami murah sekali, dan saat dimakan ternyata rasanya sangat enak. Benar kata Mas kalau kurma di Makkah jauh lebih enak dibanding dengan kurma yang ada di Indonesia, meskipun kita belinya asal saja bukan yang bermerk atau jenis tertentu. Setelah puas makan kurma yang ternyata cukup banyak isinya itu, kami memutuskan untuk membagikan sisanya ke beberapa orang yang berpapasan dengan kami. Alhamdulillah, kurma satu toples ludes dengan segera. Dalam perjalanan itu juga, kami bisa melihat clock tower dari sisi yang berbeda, yang tentunya merupakan suatu pengalaman yang luar biasa. Alhamdulillah.

Jika ditanya, adakah area favorit bagi kami saat di Masjidil Haram? Sebenarnya bukan menjadikan favorit ya, tapi kami memang lebih sering shalat atau i’tikaf di area masjid lama. Kompleks masjid di mana ada pintu 79 (King Fahd), namun saat tidak dalam kondisi ihram maka kami bisa masuk di pintu sebelah kanan atau kirinya, area masjid dibawah 3 kubah coklat lebih tepatnya. Kami tidak mengkhususkan pintu tertentu, namun jika tidak di area mataf, maka di situlah kami menuju. Saya ingat saat pertama kali masuk ke sana, Mas bilang bahwa itulah memori masa kecil terkait Masjidil Haram yang pernah dia lihat di foto. Ornamennya sama, bentuk langit-langitnya sama, dan lampu gantungnya juga.

Namun sore itu, sepertinya karena sudah dekat waktu adzan, sekitaran pintu 79 sudah ditutup. Sudah banyak jamaah yang mengatur shaf di pelataran masjid, bentuknya seperti pulau-pulau, dibatasi barikade berwarna putih setinggi pinggang orang dewasa. Saya, Mas, dan beberapa jamaah lain berkeras untuk tidak mengisi barikade yang kosong, melainkan menunggu di depan salah satu pintu yang entah kenapa kami yakin akan dibuka nantinya. Dan benar saja, tepat sebelum adzan maghrib berkumandang salah satu barikade di depan pintu yang sebelumnya pernah kami lalui yang mengarah ke rooftop akhirnya dibuka, namun bukannya naik ke lantai atas, kami justru diarahkan untuk turun menggunakan eskalator. Kami kemudian masuk ke ruangan luas yang posisinya sepertinya turun satu tingkat. Mungkin ini area masjid yang jarang ditempati atau hanya dibuka saat situasi tertentu. Saat kami tiba di sana ternyata sudah banyak jamaah yang menempati shaf masing-masing, meskipun masih banyak juga tempat yang kosong. Ruangannya cukup luas, full karpet, tersedia banyak kran air zamzam, dan yang membedakan dengan area lain yang pernah kami datangi, langit-langit di ruangan itu terasa lebih rendah. Saat di sini saya merasakan kelelahan dan kantuk yang sangat, mungkin karena perjalanan jauh ke Pemakaman Ma’la tadi. Akhirnya selepas maghrib menuju isya saya sempat ketiduran sebentar meskipun tidak benar-benar pulas. Saya berusaha sekuat tenaga untuk tetap menjaga wudhu, karena tidak tahu apakah di area itu tersedia tempat wudhu atau tidak.

Hari yang panjang, cukup melelahkan, namun lagi-lagi hati ini serasa penuh oleh rahmat Allah SWT yang tercurahkan dengan melimpah ruah. Alhamdulillah. Untuk menu makan malam, sambil menghabiskan ayam dari Chick Mix, kami juga kembali membeli makan  di Bangladesh Restaurant, kali ini dengan menu berbeda yaitu ikan nila goreng, dan saya minta tambahan kuah kari. Namun sepertinya agak salah pilih menu karena ternyata ikan nilanya cukup keras. Sepertinya menggorengnya terlalu kering. Hehe…

Oh ya, jika ada yang bertanya mengenai perbekalan, jujur saya sampaikan bahwa kami sama sekali tidak membawa perbekalan makanan. Bahkan mie instan pun tidak. Apa pasal? Pertama, karena kami sudah memesan hotel sekaligus sepaket dengan sarapan, kedua, alhamdulillah saya dan Mas cukup terbuka dengan makanan apa pun, jadi kami pikir, ini adalah kesempatan kami untuk mencicipi makanan yang ada di kompleks Masjidil Haram. Meskipun harus ada anggaran khusus terkait hal ini tentunya.

"Niatkan setiap langkah hari ini adalah ibadah. Meskipun lelah, insyaAllah jannah"

Comments