Catatan Perjalanan Hati 2025 (Part 5)
Beberapa waktu yang lalu, saya baca di thread ada
seseorang yang menulis mengenai pemilihan hotel saat umrah mandiri dan
mewanti-wanti dengan agak keras (berdasarkan persepsi saya ya, karena itu murni
tulisan) untuk tidak memilih hotel di area misfalah. Alasannya karena daerah
ini sering mengalami buka-tutup jalan pada saat mendekati waktu sholat, dan itu
merepotkan jamaah karena harus mengambil jalan memutar yang cukup jauh.

sederetan hotel yang menjadi background foto ini masuk ke dalam area misfalah
Jujur, pada saat membaca itu saya sedih, namun cukup
menghela napas saja tanpa ingin beradu argumen. Saya baca beberapa komentar
yang masuk, tentunya banyak yang bertanya alasannya, kemudian dilanjutkan
dengan bertanya mengenai lokasi mana yang aman dari buka-tutup jalan. Hampir
semua dijawab dengan rekomendasi hotel di sekitaran pelataran Masjidil Haram,
dengan dasar utama adalah buka-tutup jalan. Hanya itu, tanpa melihat kontur
tanah, tanpa melihat akses ke kios/kedai makanan, tanpa melihat apakah melewati
jalan besar dengan kendaraan cepat yang tentunya juga berisiko—bagi teman-teman
yang sudah pernah ke Makkah dan sekitarnya dan pernah berkendara dengan taksi,
tentu memahami apa yang saya maksud dengan risiko itu, mengingat supir taksi di
sana gaya menyetirnya lumayan ugal-ugalan.
Hotel yang saya tempati bersama suami adalah Emaar Al
Manar, terletak di Ibrahim Al Khalil Street, Misfalah, jaraknya sekitar 800
meter dari pelataran Masjidil Haram. Jauh? Menurut kami sama sekali tidak. Dari
hotel ke pelataran masjid hanya butuh waktu sekitar 16 menit berjalan kaki,
ditambah sekitar 5 menit jika ingin melanjutkan ke area mataf. Pernah mengalami
penutupan jalan? Pernah, hanya beberapa kali, itu pun bukan harus memutar yang jauh,
hanya perlu geser 1 blok bangunan. Yang tadinya bisa lewat dari sisi kanan
Makkah Tower (dan sederetan Elaf Kinda Hotel seperti yang sudah sering saya
sebut di awal—jalan favorit) bergeser menjadi sebelah kiri Makkah Tower. Hanya
itu. Selebihnya sangat aman dan nyaman. Selain itu, Ibrahim Al Khalil street,
terutama yang masuk dalam ring 2 Masjidil Haram, merupakan area padat pejalan
kaki. Pada jam tertentu kendaraan tidak diperbolehkan melintas, banyak penjual
makanan dan toko-toko pakaian, apotek, jus, toko buah, dan sebagainya. Sebagai
pelaku umrah mandiri tentunya ini sangat penting, mengingat kapan saja membutuhkan
sesuatu, kita tidak harus berjalan jauh untuk mencarinya.
Tapi setelah coba saya cermati lebih dalam, sepertinya
ada alasan yang jauh lebih fundamental mengenai mengapa saya dan suami sama
sekali tidak merasa hotel di area Misfalah ini tidak nyaman, atau aksesnya
sulit, dan sebagainya. Sepertinya—semoga Allah SWT menjauhkan kami dari sifat
riya’—bisa jadi karena memang sejak awal kami memusatkan fokus kegiatan pada
ibadah di Masjidil Haram secara langsung, secara terus menerus, tanpa terputus.
Alhamdulillah, Allah SWT memberi banyak kemudahan kepada kami hingga kami tidak
pernah mengalami penutupan jalan yang ekstrem sampai harus memutar jauh, kami tidak pernah
sekalipun sholat fardhu berjamaah di luar bangunan masjid kecuali saat sholat
jumat yang saya ceritakan di hari ke 3 perjalanan ini, kami tidak pernah masih
sibuk mencari shof shalat sementara iqamah telah berkumandang. Ohh,. Allah,. Kalau
diingat-ingat lagi sungguh nikmat melaksanakan ibadah saat berada di tanah
haram-Mu.
Kami punya jadwal untuk bangun jam 2 pagi waktu
setempat setiap harinya, menyegerakan
mandi—akhirnya saya paham kenapa water heater itu sangat penting di kamar
mandi!!!—kemudian bergegas ke Masjid. Tidak ada penutupan jalan, tidak ada
barikade berjejer, semua aman. Setiap hari kami berupaya untuk mengawali hari dengan
thawaf sunnah di area mataf sehingga Mas selalu berpakaian ihram. Masih menjadi
perdebatan mengenai penggunaan kain ihram bagi jamaah laki-laki yang bukan
sedang menjalankan ibadah umrah, tapi kami memilih tetap memakainya hanya untuk
rangkaian ibadah dini hari hingga waktu syuruq/dhuha tiba.
Kami kembali ke hotel sekitar jam 7 pagi bertepatan
dengan restoran hotel yang sudah buka untuk sarapan, karena kami memang
mengambil paket kamar hotel termasuk dengan sarapan. Selepas sarapan, kami
kembali ke kamar dan melanjutkan istirahat hingga sekitar jam 10 siang. Kemudian
kembali bersiap ke Masjid untuk ibadah dhuhur, dilanjut cari makan siang di
sekitaran Masjidil Haram. Kegiatan di sekitar Masjid ini berlangsung hingga
ashar, maghrib, dan isya. Selepas isya, kami akan kembali ke hotel, sambil
berbelanja makanan untuk makan malam. Begitu tiba di hotel, makan, mandi, dan
istirahat, untuk selanjutnya bersiap memulai kembali ibadah pada dini hari.
Yapp, jadwal ini memang sudah kami susun sedemikian rupa, cukup padat, namun kami
berupaya untuk benar-benar memanfaatkan waktu dengan baik dan disiplin,
menghidupkan alarm di waktu yang tepat, dan tentunya berjuang sekuat tenaga
untuk melawan rasa malas dan kantuk. Hari pertama memang terasa sangat berat,
namun alhamdulillah Allah SWT mudahkan semua di hari-hari selanjutnya hingga
kami benar-benar terbiasa.
Menginjak hari ke empat di tanah haram, setelah
melaksanakan sholat dhuhur berjamaah di Masjidil Haram, untuk pertama kalinya kami
memutuskan masuk ke Zamzam Tower/Clock Tower/Abraj Al Bait. Berdasarkan
rekomendasi seorang teman di komunitas UM, nasi biryani dan ayam panggang di Chick
Mix sangat recommended. Well, karena kami tidak punya banyak
referensi terkait makanan, jadilah kami coba saja. Beruntungnya tidak sulit
menemukan area food court yang terletak di lantai 1 itu. Kami mencoba menu
rekomendasi itu, namun sepertinya saya dan Mas sudah benar-benar jatuh cinta
dengan resto bangladesh yang menjual menu dan porsi yang kurang lebih sama, dengan
harga 25 SAR sedangkan di Chick Mix harganya 35 SAR. Setengah ekor ayam
panggang terdiri dari paha dan dada, serta satu porsi nasi biryani yang sangat
cukup untuk makan berdua, bahkan bertiga. Makan siang itu tidak bisa kami habiskan
langsung, jadilah kami memutuskan untuk membungkusnya untuk tambahan menu makan
malam nanti.
![]() |
| ada sebuah stand dengan nama Al Rifai jadi harus diabadikan |
Kami sempat mencari informasi mengenai jalan ke Pemakaman
Ma’la (Jannatul Mua’lla). Agak sedih saat bertanya ke teman-teman di komunitas
Umrah Mandiri, karena masih banyak yang tidak tahu mengenai Pemakaman Ma’la,
padahal menurut kami ini adalah salah satu lokasi ziarah yang penting. Di
pemakaman ini, Sayyida Khadijah Radhiyallaahu ‘Anha dimakamkan, di pemakaman
ini, KH. Maimum Zubair, salah satu ulama besar Indonesia dimakamkan, dan di
pemakaman ini juga, Kakek saya dari Mama dimakamkan. Seseorang yang sempat
membersamai masa kecil saya, seorang Kakek yang cukup jenaka yang saat tertawa
tinggi alis kanan dan kirinya bisa berbeda, yang saya masih ingat betul, dari
beliaulah saya pertama kali tahu mengenai sujud tilawah/sujud sajadah. Allahu
yarham. Akhirnya kami memutuskan ziarah ke Pemakaman Ma’la ini masuk dalam
agenda wajib.

petunjuk arahnya semacam ini, sangat terbaca dengan jelas
Berbekal informasi dari Deden, mas Andi, serta cek
rute menggunakan aplikasi Google Map, kami menuju ke Pemakaman Ma’la tepat setelah
shalat ashar di Masjidil Haram, dengan berjalan kaki tentunya. Petunjuk utamanya
adalah menuju pintu keluar jalur Sa’i (dekat bukit Marwah), kemudian terus
mengikuti jalan yang mengarah ke terminal Syib Amir. Titik tujunya adalah Masjid
Al Jinn, karena Pemakaman Ma’la terletak tepat di belakang masjid tersebut.
Ternyata saat memperhatikan dengan lebih detail, petunjuk arah menuju Masjid Al
Jinn cukup jelas, dan kami sempat melewati counter Lost and Found yang terletak
tepat sebelum terminal Syib Amir. Sempat terpikir untuk singgah dan bertanya
mengenai microphone yang hilang pada hari sebelumnya, namun kami batalkan
karena ternyata antrean cukup panjang.
Alhamdulillah, meskipun sempat memutar karena kami
mencari Masjid Al Jinn terlebih dahulu sebagai patokan, akhirnya kami berhasil
tiba di Pemakaman Ma’la. Ternyata banyak juga peziarah yang datang meskipun hanya
bisa berdiri di luar pagar dan mengirim doa secara umum ke seluruh ahlul kubur
yang dimakamkan di sana. Tidak lupa saya juga mengabarkan ke Mama bahwa kami
sore itu berada di pemakaman Ma’la, dan secara khusus mengirim doa utk Almarhum
Kakek. Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afi'hi wa’fu’anhu.
Masjid Al Jinn dan Pemakaman Ma’la terletak di sisi
utara kompleks Masjidil Haram, tepatnya Masjidil Haram Road. Lagi-lagi menurut
saya ini adalah area yang kurang populer bagi jamaah Indonesia, karena saat
berada di sana sama sekali tidak kami temui jamaah asal Indonesia berlalu
lalang. Mungkin ada, tapi tidak banyak. Meskipun wilayah ini menurut saya cukup
menarik, lokasinya tidak terlalu jauh dari kompleks Masjidil Haram, jalannya datar,
banyak penjual makanan dan toko oleh-oleh. Bisa jadi referensi untuk perjalanan
selanjutnya, InsyaAllah. Saya sempat terpikir untuk mengambil jalan berbeda
saat akan kembali ke pelataran Masjidil Haram, inginnya bisa melewati jalan
memutar, mengambil sisi barat kemudian
melewati area Jarwal seperti saat pertama kali kami tiba di Makkah. Namun kami
urungkan karena belum terbayang akan sejauh apa, ditambah kami tidak ingin
melewatkan shalat maghrib berjamaah.
Sepanjang perjalanan pulang, selain berpapasan dengan
para pekerja proyek perluasan Masjidil Haram, banyak juga penjaja makanan dan
pakaian, serta pernah-pernik oleh-oleh khas Umrah. Mas membeli kurma satu toples dengan harga 5
SAR yang menurut kami murah sekali, dan saat dimakan ternyata rasanya sangat
enak. Benar kata Mas kalau kurma di Makkah jauh lebih enak dibanding dengan
kurma yang ada di Indonesia, meskipun kita belinya asal saja bukan yang bermerk
atau jenis tertentu. Setelah puas makan kurma yang ternyata cukup banyak isinya
itu, kami memutuskan untuk membagikan sisanya ke beberapa orang yang berpapasan
dengan kami. Alhamdulillah, kurma satu toples ludes dengan segera. Dalam
perjalanan itu juga, kami bisa melihat clock tower dari sisi yang berbeda, yang
tentunya merupakan suatu pengalaman yang luar biasa. Alhamdulillah.
Jika ditanya, adakah area favorit bagi kami saat di
Masjidil Haram? Sebenarnya bukan menjadikan favorit ya, tapi kami memang lebih
sering shalat atau i’tikaf di area masjid lama. Kompleks masjid di mana ada
pintu 79 (King Fahd), namun saat tidak dalam kondisi ihram maka kami bisa masuk
di pintu sebelah kanan atau kirinya, area masjid dibawah 3 kubah coklat lebih
tepatnya. Kami tidak mengkhususkan pintu tertentu, namun jika tidak di area
mataf, maka di situlah kami menuju. Saya ingat saat pertama kali masuk ke sana,
Mas bilang bahwa itulah memori masa kecil terkait Masjidil Haram yang pernah dia
lihat di foto. Ornamennya sama, bentuk langit-langitnya sama, dan lampu
gantungnya juga.
Namun sore itu, sepertinya karena sudah dekat waktu
adzan, sekitaran pintu 79 sudah ditutup. Sudah banyak jamaah yang mengatur shaf
di pelataran masjid, bentuknya seperti pulau-pulau, dibatasi barikade berwarna
putih setinggi pinggang orang dewasa. Saya, Mas, dan beberapa jamaah lain
berkeras untuk tidak mengisi barikade yang kosong, melainkan menunggu di depan salah
satu pintu yang entah kenapa kami yakin akan dibuka nantinya. Dan benar saja, tepat
sebelum adzan maghrib berkumandang salah satu barikade di depan pintu yang
sebelumnya pernah kami lalui yang mengarah ke rooftop akhirnya dibuka, namun bukannya
naik ke lantai atas, kami justru diarahkan untuk turun menggunakan eskalator.
Kami kemudian masuk ke ruangan luas yang posisinya sepertinya turun satu tingkat.
Mungkin ini area masjid yang jarang ditempati atau hanya dibuka saat situasi
tertentu. Saat kami tiba di sana ternyata sudah banyak jamaah yang menempati
shaf masing-masing, meskipun masih banyak juga tempat yang kosong. Ruangannya
cukup luas, full karpet, tersedia banyak kran air zamzam, dan yang membedakan
dengan area lain yang pernah kami datangi, langit-langit di ruangan itu terasa
lebih rendah. Saat di sini saya merasakan kelelahan dan kantuk yang sangat, mungkin
karena perjalanan jauh ke Pemakaman Ma’la tadi. Akhirnya selepas maghrib menuju
isya saya sempat ketiduran sebentar meskipun tidak benar-benar pulas. Saya
berusaha sekuat tenaga untuk tetap menjaga wudhu, karena tidak tahu apakah di
area itu tersedia tempat wudhu atau tidak.
Hari yang panjang, cukup melelahkan, namun lagi-lagi
hati ini serasa penuh oleh rahmat Allah SWT yang tercurahkan dengan melimpah
ruah. Alhamdulillah. Untuk menu makan malam, sambil menghabiskan ayam dari
Chick Mix, kami juga kembali membeli makan di Bangladesh Restaurant, kali ini dengan menu
berbeda yaitu ikan nila goreng, dan saya minta tambahan kuah kari. Namun
sepertinya agak salah pilih menu karena ternyata ikan nilanya cukup keras. Sepertinya
menggorengnya terlalu kering. Hehe…
Oh ya, jika ada yang bertanya mengenai perbekalan,
jujur saya sampaikan bahwa kami sama sekali tidak membawa perbekalan makanan. Bahkan
mie instan pun tidak. Apa pasal? Pertama, karena kami sudah memesan hotel
sekaligus sepaket dengan sarapan, kedua, alhamdulillah saya dan Mas cukup
terbuka dengan makanan apa pun, jadi kami pikir, ini adalah kesempatan kami
untuk mencicipi makanan yang ada di kompleks Masjidil Haram. Meskipun harus ada
anggaran khusus terkait hal ini tentunya.
"Niatkan setiap langkah hari ini adalah ibadah. Meskipun lelah, insyaAllah jannah"











Comments
Post a Comment
Speak Up...!!! :D