Catatan Perjalanan Umrah Mandiri (Part 2)

Kamis, 3 April 2025

Alhamdulillah,.. Alhamdulillah,. Tidak ada hal lain yang bisa kami lakukan selain syukur yang berkali lipat. Meski malam sebelumnya sempat kebingungan mengenai tempat menginap, kesulitan transportasi, dan lain sebagainya, pada akhirnya kami bisa menemukan hotel untuk beristirahat dan rasanya kesulitan tadi malam tidak berarti apa pun. Alhamdulillah, kami bisa beristirahat dengan nyaman dan nyenyak, melepas seluruh penat dan kebingungan yang sempat menumpuk.

view dari jendela kamar hotel
Saya jadi kembali mengingat diskusi panjang yang tidak hanya sekali dua kali kami lakukan, sebelum benar-benar memutuskan akan melakukan perjalan ini berdua saja. Ada beberapa hal penting yang harus kami pegang selama nantinya perjalanan ini berlangsung. Kami tidak akan tahu dan tidak bisa memprediksi hal apa yang akan kami hadapi selama perjalanan ini, kesulitan macam apa yang akan menerpa kami, ujian sesulit apa yang harus kami jalani, namun sepanjang kami berdua bisa menjaga komunikasi tetap baik, tetap tenang di situasi apa pun, dan mendiskusikan segala hal sebelum mengambil keputusan penting, maka seharusnya segalanya pasti bisa kami lalui. Saya bersyukur dengan sangat, ditengah kelelahan dan kebingungan semalam, tidak ada sedikitpun terdengar kata-kata yang meninggi, kalimat menyalahkan, atau ungkapan keluh yang bisa jadi sampai ke dalam hati. Mas memenuhi janjinya untuk senantiasa berada di dekat saya, dalam radius terjangkau untuk komunikasi langsung atau melalui tatapan mata, serta tidak pernah menghilang tanpa pamit meskipun hanya sebentar—seperti kebiasannya saat sehari-hari di rumah. Alhamdulillah,. Allah SWT senantiasa menjaga kami.

Selepas subuh sementara Mas masih melanjutkan istirahat, saya mencoba mencari tahu mengenai ketersediaan sarapan di hotel ini, hal yang terlupa tidak saya tanyakan semalam. Penggunaan chat via aplikasi ternyata tidak cukup membantu karena jawaban dari customer service terlalu standar, curiga bahwa yang merespon pertanyaan saya adalah AI. Kemudian, setelah mencermati dari website hotel dan hasil chat dengan CS AI, saya akhirnya berkesimpulan bahwa hotel ini memiliki restoran yang melayani pemesanan dari kamar, namun layanan ini tidak beroperasi saat jam sarapan—karena restoran fokus menyediakan sarapan untuk tamu hotel. Baiklah, akhirnya saya memutuskan untuk mencari tahu dimana lokasi restoran, dan bertanya apakah bisa add-on sarapan di restoran karena kamar yang saya pesan belum termasuk layanan sarapan. Dengan ramah petugas menyampaikan bahwa hal tersebut sangat mungkin, dan saya tinggal membayar beberapa puluh RM untuk bisa menikmati sarapan di restoran hotel tersebut.

Jam pemberangkatan shuttle bus ke terminal 1 terjadwal jam 11 siang. Kami masih punya banyak waktu untuk istirahat dan sarapan, sambil menjelajah sekitaran hotel yang ternyata tidak terlalu luas namun cukup nyaman. Selepas mandi dan berganti pakaian, segera kami menuju restoran yang terletak di lantai dasar, tepat bersebelahan dengan outdoor space yang posisinya di belakang lobby/meja resepsionis.

Pilihan menu yang tersaji di restoran tidak terlalu banyak namun cukup lengkap, dan bagian paling menyenangkannya adalah menunya sangat Indonesia. Ada bubur ayam, nasi goreng dengan aneka lauk, sup ceker, beberapa sayuran tumis, omlet, berbagai macam buah dan salad dressing, serta kopi teh susu yang tidak boleh ketinggalan. Benar-benar tidak ada bedanya dengan menu di hotel Indonesia, kecuali kalau melihat sekeliling dan menyadari bahwan sebagian besar tamu yang ada berkomunikasi dengan bahasa Inggris atau melayu, serta keanekaragaman etnik yang cukup mencolok. Seperti yang kita ketahui, negara Malaysia didominasi oleh 3 etnik utama, yakni Melayu, Tionghoa, dan India. Selepas sarapan, kami sempat duduk-duduk dan berfoto di area outdoor di samping restoran. Tersedia banyak sofa untuk sekadar beristirahat, dengan pemandangan langit lepas dikelilingi bangunan hotel yang entah ada berapa tingkat.

Lima belas menit sebelum jadwal keberangkatan shuttle bus, kami sudah berada di lobby. Tidak lupa, Mas telah mengenakan kain ihram bagian bawah, karena rute kami nanti akan langsung ke Jeddah kemudian berlanjut ke Makkah, yang mana mengharuskan kami untuk mengambil niat Ihram di dalam pesawat. Tepat jam sebelas siang sebuah minibus Hi-Ace kapasitas besar berwarna putih datang. Dengan sigap sang sopir langsung mendata nama yang sudah terdaftar, mempersilakan kami masuk, dan membantu mengangkut koper ke bagasi. Hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit, mobil telah tiba di terminal 1 level 1.

view dari outdoor space di samping restoran


Lobby Pelepasan Antarbangsa/International Depature terletak di level 5. Begitu masuk, suasana lengang yang semalam kami rasakan berbalik 180o. Antrean di counter check in berbagai maskapai internasional mengular, entah dengan tujuan mana saja. Penerbangan kami tidak membutuhkan proses check in ulang karena merupakan connecting flight, jadi langsung menuju arah imigrasi untuk stample paspor yang sebelumnya harus turun 1 level. Begitu melewati security check yang seharusnya memang tidak ada kendala, kami segera diarahkan ke pintu tertentu untuk kemudian naik bus menuju terminal lain. Belakangan, saya baru mengetahui bahwa di Terminal 1 KLIA, selain gedung utama terminal juga ada terminal lain yang letaknya terpisah—disebut Satellite building T1, yang sepertinya dikhususkan untuk penerbangan dengan pesawat-pesawat besar. Ke sanalah kami menuju.

Waktu boarding sebenarnya masih lama, tapi kami memutuskan untuk tetap menuju boarding gate terlebih dahulu, minimal untuk mengetahui lokasi gate kami, sambil memastikan kembali kode penerbangan, maskapai, dan tujuan, sudah sesuai dengan boarding pass yang kami miliki. Awalnya, muncul sedikit kekhawatiran karena belum tampak tanda-tanda orang lain atau calon penumpang lain yang mengenakan baju ihram—tanda akan melaksanakan ibadah umrah. Namun, begitu hampir tiba di gate keberangkatan yang lagi-lagi terletak di ujung, barulah mulai terlihat beberapa kelompok jamaah umrah dengan berbagai macam atribut biro travel lengkap dengan pakaian ihram.

“Alhamdulillah,. Akhirnya ada temannya,” canda Mas begitu kami melewati beberapa rombongan.

Gate keberangkatan kami belum dibuka. Kami kemudian mencari musholla terdekat sambil menunggu jadwal shalat dhuhur. Rencananya kami akan mendirikan shalat dhuhur jama’ tqdim qashar dengan ashar, kemudian kembali ke gate untuk selanjutnya melakukan proses boarding. Musholla di Satellite Building yang bentuknya seperti tanda (+) ini berada tepat di bagian tengah, mezzanin level 2, yang letaknya paling ujung. Ruangan untuk jamaah laki-laki dan perempuan terpisah namun masih bersebelahan. Begitu masuk ke dalam, ada sebuah ruangan yang memisahkan antara pintu dan ruang shalat. Semacam tempat transit, dimana di ruangan yang tidak terlalu luas itu para jamaah bisa meletakkan koper dan alas kaki. Masuk ke ruangan selanjutnya, yakni area shalat yang beralaskan karpet tebal dari ujung ke ujung, juga dilengkapi dengan penanda arah kiblat yang terlihat sangat jelas. Tempat wudhu terdapat di sisi kanan dari pintu masuk, sedangan sisi lainnya yang berdinding kaca luas, kita bisa melihat kesibukan berbagai jenis pesawat di sekitaran landasan pacu.  

Kami kembali ke boarding gate sangat tepat waktu. Pintu menuju ruang tunggu telah dibuka, yang diawali dengan security check ulang. Begitu masuk, tidak perlu menunggu waktu lama sampai kemudian proses boarding dimulai. Alhamdulillah, saya dan Mas mendapat kesempatan untuk masuk lebih awal, karena kursi kami terletak di belakang. Paling belakang ujung kanan, lebih tepatnya.

Begitu masuk ke dalam pesawat, MaasyaaAllah,.. hati rasanya bergetar. Dari speaker pesawat sayup-sayup terdengar bacaan talbiyyah berkumandang. Saya terharu, tidak menyangka bahwa akan ada ‘sambutan’ seistimewa ini. Lantunan talbiyyah itu seolah menjadi pengingat kepada kami mengenai tujuan perjalanan ini, membuat kami kembali berusaha meluruskan niat, menyiapkan hati, untuk seutuhnya memepersembahkan perjalanan ini murni dalam rangka beribadah kepada Allah SWT dan mengikuti sunnah Rasul-Nya.

Dalam penerbangan menggunakan Malaysia Airlines dengan tujuan King Abdulaziz Internasional Airport Jeddah ini, selain fasilitas bantal dan selimut, penumpang juga mendapat umrah kit yang terdiri dari botol spray untuk wudhu, tasbih digital, masker, serta sajadah lipat berwarna biru yang sangat saya suka. Saya kembali terkagum dengan pelayanan dari Malaysia Airlines, benar-benar totalitas dalam melayani seluruh penumpang yang memang sebagian besar tujuannya adalah untuk melakukan ibadah Umrah.



”Assalamualaikum, selamat datang para tamu-tamu Allah …”

Huaaaa… makin terharu dengan sapaan pilotnya. Ya Allah, terima kasih, kami telah berkesempatan untuk melakukan perjalanan ini. Tidak ada yang bisa kami ucap selain rasa syukur yang sedalam-dalamnya.



Sembilan jam sepuluh menit kami habiskan dalam perjalanan dari Kuala Lumpur menuju Jeddah. Selama perjalanan itu, kami mendapat 2x makan besar lengkap dengan snack dan berbagai pilihan minuman. Seorang teman menyarankan untuk memaksimalkan waktu di pesawat untuk istirahat, karena nantinya begitu sampai Jeddan kemudian lanjut ke Makkah, kami akan langsung melaksanakan ibadah Umrah yang mana menuntut fisik yang prima. Namun ternyata satu kesalahan kecil yang saya lakukan cukup berdampak. Saat sarapan di hotel saya teringat telah menghabiskan satu gelas penuh kopi hitam dicampur creamer yang cukup lezat, yang ternyata bekerja dengan sangat baik sehingga saya kesulitan untuk tidur. Jadilah, saya kembali menghabiskan waktu dengan mengaji, sesekali mengobrol dengan Mas saat ia terjaga, makan, mengamati rute pesawat dari layar IFE (inFlight Entertainment), dan tetap mencoba memejamkan mata meski tidak berhasil terlelap. Sempat tergoda untuk menonton film atau semacamnya namun saya batalkan. Saya ingin benar-benar menjaga hati dan pikiran untuk fokus beribadah, tidak ingin teracuni dengan hal lain apa pun. Selama penerbangan sempat beberapa kali terjadi goncangan, namun melihat awak kabin yang masih bisa santai mengobrol dengan sesama, sambil tetap memberikan pelayanan prima kepada para penumpang, sepertinya hal itu masih tergolong guncangan yang ‘biasa’.

Sendok-garpu-pisau milik Malaysia Airlines memiliki kualitas yang bagus. Kami kemudian memberanikan diri untuk bertanya ke awak kabin, apakah memungkinkan untuk membawa sendok garpu dalam penerbangan ini, karena kami terlupa tidak membawa peralatan makan sama sekali. Alhamdulillah, diizinkan. 

Sekitar dua jam sebelum mendarat, beberapa jamaah mulai tampak sibuk. Ada yang menurukan barang dari bagasi kabin, ada yang hilir mudik ke bagian belakang pesawat, memanfaatkan beberapa kursi kosong di bagian belakang untuk membongkar koper, dan lain sebagainya. Para jamaah yang nantinya akan langsung menuju Makkah mulai bersiap berganti ihram, karena tidak lama lagi pesawat akan melewati Yalamlam, yakni batas untuk mengambil miqat dan berniat Ihram. Kami pun juga ikut bersiap. Mas mulai menurunkan bagasi kabin kemudian mengambil sehelai kain ihram yang sudah disiapkan sebelumnya. Melepas seluruh pakaian—t-shirt, jaket, topi, serta seluruh pakaian dalam, dan berganti dengan kain ihram yang awalnya agak kesulitan memakainya meskipun sebelumnya telah banyak berlatih di rumah. Hehe … Saya pun turut mempersiapkan diri. Meski tidak ada tuntutan untuk mengenakan pakaian tertentu, namun beberapa larang ihram juga berlaku bagi wanita. Pakaian dan hijab pun pemakaiannya kami sempurnakan lagi untuk memastikan bahwa aurat sudah benar-benar tertutup rapat dan minim risiko tersingkap.

Beberapa menit sebelum pesawat melintas daerah Yalamlam, pilot memberi pengumuman melalui speaker pesawat dan mengingatkan untuk niat ihram. Sejak saat itu, larangan ihram berlaku dan kami berupaya untuk benar-benar menjaganya. Tidak ada lagi obrolan-obrolan ringan, tidak ada lagi bercandaan tidak perlu, kami fokus bertalbiyah di dalam hati, dan berkomunikasi secukupnya sesuai kebutuhan.

Alhamdulillah, atas izin Allah SWT, penerbangan kami sangat lancar. Kami tiba di Jeddah tepat saat adzan maghrib berkumandang di seluruh bagian gedung bandara King Abdulaziz Internasional Airport. Begitu keluar dari pesawat dan memasuki gedung terminal yang warnanya dominan putih, suasana jadi benar-benar berbeda. Tidak ada lagi ‘kehangatan rasa rumah’ yang masih terasa saat di bandara KLIA, hampir semua laki-laki berpakaian ihram, sedangkan para wanita dominan menggunakan pakaian hitam polos. Semua orang berjalan dengan cepat, seolah berlomba untuk mencapai garis finish terlebih dahulu. Saya dan Mas menyempatkan untuk singgah di toilet sebelum melanjutkan prosedur keluar bandara, dan di saat itu juga saya benar-benar merasa asing. Tidak ada wajah yang kami kenal, bahkan tidak ada yang familiar sama sekali. Banyak orang mengobrol namun dengan bahasa yang tidak saya mengerti. Akhirnya saya memutuskan untuk menyegerakan aktifitas di toilet, karena berjauhan dengan Mas membuat saya sedikit khawatir dan ketakutan.

Cukup lama saya menunggu di depan pintu toilet laki-laki, sampai akhirnya Mas muncul dengan wajah yang juga sedikit panik.

“Sepertinya baju ihramnya Mas kena najis ini Dek, nanti ingatkan untuk ganti ya di hotel,” begitu ucapnya tiba-tiba. Ternyata selain belajar dan membiasakan memakai ihram, kita juga perlu persiapan mengenakan ihram di dalam toilet agar tidak terkena najis. Ini penting dan perlu dicatat.

Diujung lorong gedung terminal yang panjang, tampak banyak orang berkerumun, berbaris rapat dan terbagi menjadi 2 bagian, sisi kanan dan kiri. Saya tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan dari jauh. Namun setelah kami mendekat, ternyata itu adalah antrean untuk naik kereta otomatis (APM/sejenis monorel) yang menghubungkan antara gate keberangkatan/kedatangan dengan terminal utama. Kami pun turut serta mengantre. Lagi-lagi semua orang bergerak dengan sangat cepat. Tidak butuh waktu lama untuk antrean kembali menumpuk, namun di bagian depan juga pergerakan tidak kalah cepat. Ada beberapa lapis antrean sampai akhirnya tiba giliran kami masuk ke dalam kereta.

Ternyata tidak hanya manusianya, kereta APM ini pun bergerak dengan sangat cepat, tidak peduli penumpang di dalamnya yang terhuyung dan berusaha sekuat tenaga untuk tidak terjatuh. Tidak ada tempat duduk di dalam kereta, jadi semua penumpang berdiri, satu tangan menjaga koper agar tidak menggelinding sedang tangan yang lain berpegangan dengan erat ke hand grip yang tersebar merata di seluruh penjuru kereta yang tidak terlalu besar itu. Suasananya tegang sekaligus tenang. Tidak ada suara orang mengobrol, tidak ada keramahtamahan khas Indonesia yang sering kita jumpai di kendaraan umum, dan tidak ada juga yang sibuk telepon dengan suara lantang. Hanya beberapa menit berlalu sampai kereta tiba di gedung utama bandara.

Begitu tiba di gedung utama kami langsung melalui proses imigrasi yang berjalan dengan sangat lancar meskipun antrean cukup panjang, kemudian dilanjut dengan pengambilan bagasi yang sungguh tidak kalah cepat. Kedua koper kami tiba tepat saat kami sampai di conveyor belt sehingga kami sama sekali tidak perlu menunggu. Sejurus kemudian, kami kembali ingat informasi dari seorang teman bahwa begitu keluar dari pengambilan bagasi, kami harus mengambil arah aquarium raksasa, kemudian turun satu lantai menggunakan eskalator di sisi kanan. Segera kami mengikuti instruksi itu, namun sempat terhenti sesaat untuk mengambil foto di depan aquarium.

“Mas foto di sana ya, nanti kirim ke Mas Andi,” ujarku.

Mas Andi adalah salah satu teman kami di Jogja yang juga menjadi motivator utama kami dalam melakukan umrah mandiri. Beberapa bulan sebelum keberangkatan kami, mas Andi juga melaksanakan ibadaha umrah yang dilakukan dengan mandiri, dan sempat berfoto di depan aquarium dengan mengenakan kain ihram, dan mengirimkannya kepada Mas.

“Ayo, mas Rifai. Saya tunggu kabarnya ya, segera berangkat,” begitu katanya.

Kami saat itu hanya bisa mengamini dalam hati. Alhamdulillah,. Allah SWT kabulkan keinginan kami yang terbersit kala melihat foto itu dengan memberi kesempatan yang sama saat ini, dan berfoto dengan situasi yang hampir serupa pula.

Begitu menuruni eskalator yang terletak di sisi kanan, seketika tampak counter NWBus, salah satu transportasi yang bisa digunakan dari bandara ke Makkah. Kami segera mendekat dan memesan tiket untuk 2 orang menuju terminal Jarwal, Makkah, dengan harga 44SAR per orang. Petugas counter menginformasikan bahwa bus akan berangkat 15 menit lagi, sambil menunjukkan jalan ke arah parkiran bus, serta mempersilakan kami duduk di ruang tunggu yang tersedia tidak jauh dari counter itu. Kami sempat duduk sejenak, mengistirahatkan kaki yang sudah berjalan sekitar satu jam terhitung sejak keluar dari pesawat tadi.

“Alhamdulillah … alhamdulillah … lancar banget ya Mas, prosesnya,”

Air mata tak lagi bisa saya bendung. Kami sudah sampai sejauh ini, dan tinggal sedikit lagi hingga kami tiba di tempat tujuan. Tak lama berselang, ada seorang laki-laki menyapa kami tanpa ragu dengan bahasa Indonesia.

“Umrah mandiri ya?” tanyanya langsung.
Mas segera menanggapi dan mengobrol singkat. Ternyata dia adalah salah seorang mahasiswa asal Indonesia, namun saya kurang jelas berkuliah di mana. Dia baru saja mengantar orang tuanya pulang, dan akan naik NWBus juga menuju ke Makkah.

“Ayo ke bus, sudah mau berangkat ini jadwalnya,” ajaknya.

Kami kemudian segera bergegas menuju Bus yang telah pakir tak jauh dari pintu keluar. Segera setelah meletakkan barang di bagasi, petugas Bus memindai tiket kami kemudian mempersilakan kami masuk.

Perjalanan dari Jeddah ke Makkah memakan waktu hampir dua jam. Alhamdulllah, saya sempat tertidur sejenak di Bus, mungkin karena sudah kelelahan akibat perjalanan yang cukup panjang. Namun semakin lama perjalanan terasa makin sering tersendat, yang ternyata itu adalah pertanda bahwa kami sudah hampir sampai. Sesekali dari jauh, tampak clock tower (Abraj Al Bait) dengan lampu hijaunya menyala terang, menjadi penanda bahwa ke sanalah bus yang saya tumpangi menuju.

Bus yang kami naiki akhirnya tiba di terminal Jarwal yang ternyata tidak terlalu besar. Begitu ambil barang di bagasi, saat itu juga kami langsung melihat Deden yang berdiri di depan bus, lengkap dengan kacamata dan pakaian ihram serta tas punggung kecilnya, berjalan dan tersenyum ke arah kami.

“Assalamualaikum,…” sapanya ramah yang kemudian disambut dengan pelukan oleh Mas.

Saat itu juga hati saya menghangat. Ketegangan sepanjang perjalanan, kelelahan di seluruh badan, rasa kantuk yang tak terhingga, segala ketakutan dan kekhawatiran yang menghantui, seketika menguap begitu saja. Allah SWT memberikan begitu banyak kemudahan dalam perjalanan kami. Saaangat banyak. Alhamdulillah … Alhamdulillah …

Jika di tulisan ini dan part sebelumnya saya sempat beberapa kali menyebut ‘teman kami’, maka hampir bisa dipastikan bahwa sosok itu merujuk pada Deden. Muhammad Deden Irwandi lengkapnya, mahasiswa asal Indonesia yang dulunya berdomisili di Jogja dan saat ini tengah menempuh pendidikan S2 di King Abdulaziz University Jeddah jurusan Kritik Sastra Arab. Selain mas Andi, dia adalah salah satu tokoh penting yang juga meyakinkan kami untuk melakukan perjalanan umrah ini secara mandiri. InsyaAllah, selama ibadah umrah kali ini Deden akan menjadi muthowwif sekaligus pemandu kami selama berada di Makkah.

Ternyata kami sampai di terminal Jarwal bertepatan dengan selesainya sholat isya berjamaah di Masjidil Haram. Awalnya kami berencana untuk menggunakan taksi menuju hotel. Namun Deden menjelaskan bahwa di jam seperti ini jalanan masih sangat padat baik untuk keluar dari terminal maupun menuju hotel. Selain karena masih banyak jalan yang ditutup, jamaah pun masih tumpah ruah di jalan. Kami membenarkan karena bus yang kami tumpangi tadi juga cukup lama terjebak macet sebelum akhirnya berhasil tiba di terminal. Akhirnya kami memutuskan untuk jalan kaki dari terminal Jarwal ke hotel yang jaraknya hampir 3km. Alhamdulillah, jarak yang cukup jauh tidak terlalu terasa karena padatnya manusia.  Ada tanjakan, banyak turunan, sampai akhirnya kami tiba di pelataran Masjidil Haram area perluasan. Kami sempat beristirahat sejenak untuk melepas lelah. Deden menawarkan untuk mengambilkan air zamzam dan kami menyambutnya. Alhamdulillah, kami teguk untuk pertama kalinya air zamzam langsung dari sumbernya dan rasanya sangat luar biasa.

Kami melanjutkan berjalan kaki ke arah Misfalah, Ibrahim Al Khalil street, tempat dimana hotel kami berada. Sempat singgah sejenak di Bangladesh Restaurant untuk membeli makan yang letaknya hanya selisih beberapa gedung dari hotel kami. Begitu sampai di hotel, kami bisa langsung masuk ke kamar tanpa melakukan proses check in terlebih dahulu karena Deden sudah melakukannya sore harinya. Alhamdulillah … kami tiba di hotel Emaar Al Manar, Ibrahim Al Khalil Street, sekitar jam 11 malam dengan lengkap, utuh, tak kurang suatu apa pun kecuali rasa syukur yang berlimpah. Semoga Allah SWT senantiasa memudahkan kami dalam menjaga kondisi ihram ini, dan menjauhkan kami dari apa-apa yang dilarang oleh-Nya.

"Bisa jadi, keajaiban hidup tidak hadir dalam bentuk sesuatu yang mencengangkan, menakjubkan, atau di luar nalar manusia. Melainkan hadir dalam bentuk kelancaran, ketenangan, pertemuan dengan orang-orang baik, waktu yang tepat, serta kemampuan untuk menyadari bahwa semua ini cukup. Alhamdulillah."



Comments

Popular Posts