Catatan Perjalanan Umrah Mandiri (Part 2)
Kamis, 3 April 2025
Alhamdulillah,.. Alhamdulillah,. Tidak ada hal lain
yang bisa kami lakukan selain syukur yang berkali lipat. Meski malam sebelumnya
sempat kebingungan mengenai tempat menginap, kesulitan transportasi, dan lain
sebagainya, pada akhirnya kami bisa menemukan hotel untuk beristirahat dan
rasanya kesulitan tadi malam tidak berarti apa pun. Alhamdulillah, kami bisa
beristirahat dengan nyaman dan nyenyak, melepas seluruh penat dan kebingungan
yang sempat menumpuk.
![]() |
| view dari jendela kamar hotel |
Selepas subuh sementara Mas masih melanjutkan
istirahat, saya mencoba mencari tahu mengenai ketersediaan sarapan di hotel
ini, hal yang terlupa tidak saya tanyakan semalam. Penggunaan chat via aplikasi
ternyata tidak cukup membantu karena jawaban dari customer service
terlalu standar, curiga bahwa yang merespon pertanyaan saya adalah AI. Kemudian,
setelah mencermati dari website hotel dan hasil chat dengan CS AI, saya
akhirnya berkesimpulan bahwa hotel ini memiliki restoran yang melayani
pemesanan dari kamar, namun layanan ini tidak beroperasi saat jam
sarapan—karena restoran fokus menyediakan sarapan untuk tamu hotel. Baiklah,
akhirnya saya memutuskan untuk mencari tahu dimana lokasi restoran, dan
bertanya apakah bisa add-on sarapan di restoran karena kamar yang saya
pesan belum termasuk layanan sarapan. Dengan ramah petugas menyampaikan bahwa
hal tersebut sangat mungkin, dan saya tinggal membayar beberapa puluh RM untuk
bisa menikmati sarapan di restoran hotel tersebut.
Jam pemberangkatan shuttle bus ke terminal 1 terjadwal
jam 11 siang. Kami masih punya banyak waktu untuk istirahat dan sarapan, sambil
menjelajah sekitaran hotel yang ternyata tidak terlalu luas namun cukup nyaman.
Selepas mandi dan berganti pakaian, segera kami menuju restoran yang terletak
di lantai dasar, tepat bersebelahan dengan outdoor space yang posisinya
di belakang lobby/meja resepsionis.
Pilihan menu yang tersaji di restoran tidak terlalu
banyak namun cukup lengkap, dan bagian paling menyenangkannya adalah menunya
sangat Indonesia. Ada bubur ayam, nasi goreng dengan aneka lauk, sup ceker,
beberapa sayuran tumis, omlet, berbagai macam buah dan salad dressing, serta
kopi teh susu yang tidak boleh ketinggalan. Benar-benar tidak ada bedanya
dengan menu di hotel Indonesia, kecuali kalau melihat sekeliling dan menyadari
bahwan sebagian besar tamu yang ada berkomunikasi dengan bahasa Inggris atau
melayu, serta keanekaragaman etnik yang cukup mencolok. Seperti yang kita
ketahui, negara Malaysia didominasi oleh 3 etnik utama, yakni Melayu, Tionghoa,
dan India. Selepas sarapan, kami sempat duduk-duduk dan berfoto di area outdoor
di samping restoran. Tersedia banyak sofa untuk sekadar beristirahat, dengan
pemandangan langit lepas dikelilingi bangunan hotel yang entah ada berapa
tingkat.
Lima belas menit sebelum jadwal keberangkatan shuttle
bus, kami sudah berada di lobby. Tidak lupa, Mas telah mengenakan
kain ihram bagian bawah, karena rute kami nanti akan langsung ke Jeddah
kemudian berlanjut ke Makkah, yang mana mengharuskan kami untuk mengambil niat
Ihram di dalam pesawat. Tepat jam sebelas siang sebuah minibus Hi-Ace kapasitas
besar berwarna putih datang. Dengan sigap sang sopir langsung mendata nama yang
sudah terdaftar, mempersilakan kami masuk, dan membantu mengangkut koper ke
bagasi. Hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit, mobil telah tiba di terminal
1 level 1.
Lobby Pelepasan Antarbangsa/International Depature
terletak di level 5. Begitu masuk, suasana lengang yang semalam kami rasakan
berbalik 180o. Antrean di counter check in berbagai maskapai
internasional mengular, entah dengan tujuan mana saja. Penerbangan kami tidak
membutuhkan proses check in ulang karena merupakan connecting flight,
jadi langsung menuju arah imigrasi untuk stample paspor yang sebelumnya harus
turun 1 level. Begitu melewati security check yang seharusnya memang
tidak ada kendala, kami segera diarahkan ke pintu tertentu untuk kemudian naik
bus menuju terminal lain. Belakangan, saya baru mengetahui bahwa di Terminal 1
KLIA, selain gedung utama terminal juga ada terminal lain yang letaknya
terpisah—disebut Satellite building T1, yang sepertinya dikhususkan
untuk penerbangan dengan pesawat-pesawat besar. Ke sanalah kami menuju.
Waktu boarding sebenarnya masih lama, tapi kami
memutuskan untuk tetap menuju boarding gate terlebih dahulu, minimal
untuk mengetahui lokasi gate kami, sambil memastikan kembali kode penerbangan,
maskapai, dan tujuan, sudah sesuai dengan boarding pass yang kami
miliki. Awalnya, muncul sedikit kekhawatiran karena belum tampak tanda-tanda
orang lain atau calon penumpang lain yang mengenakan baju ihram—tanda akan
melaksanakan ibadah umrah. Namun, begitu hampir tiba di gate keberangkatan yang
lagi-lagi terletak di ujung, barulah mulai terlihat beberapa kelompok jamaah
umrah dengan berbagai macam atribut biro travel lengkap dengan pakaian ihram.
“Alhamdulillah,. Akhirnya ada temannya,” canda Mas
begitu kami melewati beberapa rombongan.
Gate keberangkatan kami belum dibuka. Kami kemudian mencari
musholla terdekat sambil menunggu jadwal shalat dhuhur. Rencananya kami akan
mendirikan shalat dhuhur jama’ tqdim qashar dengan ashar, kemudian kembali ke
gate untuk selanjutnya melakukan proses boarding. Musholla di Satellite
Building yang bentuknya seperti tanda (+) ini berada tepat di bagian tengah,
mezzanin level 2, yang letaknya paling ujung. Ruangan untuk jamaah laki-laki
dan perempuan terpisah namun masih bersebelahan. Begitu masuk ke dalam, ada
sebuah ruangan yang memisahkan antara pintu dan ruang shalat. Semacam tempat
transit, dimana di ruangan yang tidak terlalu luas itu para jamaah bisa
meletakkan koper dan alas kaki. Masuk ke ruangan selanjutnya, yakni area shalat
yang beralaskan karpet tebal dari ujung ke ujung, juga dilengkapi dengan
penanda arah kiblat yang terlihat sangat jelas. Tempat wudhu terdapat di sisi
kanan dari pintu masuk, sedangan sisi lainnya yang berdinding kaca luas, kita
bisa melihat kesibukan berbagai jenis pesawat di sekitaran landasan pacu.
Kami kembali ke boarding gate sangat tepat waktu.
Pintu menuju ruang tunggu telah dibuka, yang diawali dengan security check
ulang. Begitu masuk, tidak perlu menunggu waktu lama sampai kemudian proses boarding
dimulai. Alhamdulillah, saya dan Mas mendapat kesempatan untuk masuk lebih
awal, karena kursi kami terletak di belakang. Paling belakang ujung kanan,
lebih tepatnya.
Begitu masuk ke dalam pesawat, MaasyaaAllah,.. hati
rasanya bergetar. Dari speaker pesawat sayup-sayup terdengar bacaan talbiyyah
berkumandang. Saya terharu, tidak menyangka bahwa akan ada ‘sambutan’
seistimewa ini. Lantunan talbiyyah itu seolah menjadi pengingat kepada kami
mengenai tujuan perjalanan ini, membuat kami kembali berusaha meluruskan niat,
menyiapkan hati, untuk seutuhnya memepersembahkan perjalanan ini murni dalam
rangka beribadah kepada Allah SWT dan mengikuti sunnah Rasul-Nya.
Dalam penerbangan menggunakan Malaysia Airlines dengan
tujuan King Abdulaziz Internasional Airport Jeddah ini, selain fasilitas bantal
dan selimut, penumpang juga mendapat umrah kit yang terdiri dari botol spray
untuk wudhu, tasbih digital, masker, serta sajadah lipat berwarna biru yang
sangat saya suka. Saya kembali terkagum dengan pelayanan dari Malaysia
Airlines, benar-benar totalitas dalam melayani seluruh penumpang yang memang sebagian
besar tujuannya adalah untuk melakukan ibadah Umrah.
”Assalamualaikum, selamat datang para tamu-tamu Allah
…”
Huaaaa… makin terharu dengan sapaan pilotnya. Ya
Allah, terima kasih, kami telah berkesempatan untuk melakukan perjalanan ini.
Tidak ada yang bisa kami ucap selain rasa syukur yang sedalam-dalamnya.
Sembilan jam sepuluh menit kami habiskan dalam
perjalanan dari Kuala Lumpur menuju Jeddah. Selama perjalanan itu, kami
mendapat 2x makan besar lengkap dengan snack dan berbagai pilihan minuman.
Seorang teman menyarankan untuk memaksimalkan waktu di pesawat untuk istirahat,
karena nantinya begitu sampai Jeddan kemudian lanjut ke Makkah, kami akan
langsung melaksanakan ibadah Umrah yang mana menuntut fisik yang prima. Namun
ternyata satu kesalahan kecil yang saya lakukan cukup berdampak. Saat sarapan
di hotel saya teringat telah menghabiskan satu gelas penuh kopi hitam dicampur
creamer yang cukup lezat, yang ternyata bekerja dengan sangat baik sehingga
saya kesulitan untuk tidur. Jadilah, saya kembali menghabiskan waktu dengan
mengaji, sesekali mengobrol dengan Mas saat ia terjaga, makan, mengamati rute
pesawat dari layar IFE (inFlight Entertainment), dan tetap mencoba memejamkan
mata meski tidak berhasil terlelap. Sempat tergoda untuk menonton film atau
semacamnya namun saya batalkan. Saya ingin benar-benar menjaga hati dan pikiran
untuk fokus beribadah, tidak ingin teracuni dengan hal lain apa pun. Selama
penerbangan sempat beberapa kali terjadi goncangan, namun melihat awak kabin
yang masih bisa santai mengobrol dengan sesama, sambil tetap memberikan
pelayanan prima kepada para penumpang, sepertinya hal itu masih tergolong
guncangan yang ‘biasa’.
Sekitar dua jam sebelum mendarat, beberapa jamaah
mulai tampak sibuk. Ada yang menurukan barang dari bagasi kabin, ada yang hilir
mudik ke bagian belakang pesawat, memanfaatkan beberapa kursi kosong di bagian
belakang untuk membongkar koper, dan lain sebagainya. Para jamaah yang nantinya
akan langsung menuju Makkah mulai bersiap berganti ihram, karena tidak lama
lagi pesawat akan melewati Yalamlam, yakni batas untuk mengambil miqat dan
berniat Ihram. Kami pun juga ikut bersiap. Mas mulai menurunkan bagasi kabin
kemudian mengambil sehelai kain ihram yang sudah disiapkan sebelumnya. Melepas
seluruh pakaian—t-shirt, jaket, topi, serta seluruh pakaian dalam, dan berganti
dengan kain ihram yang awalnya agak kesulitan memakainya meskipun sebelumnya
telah banyak berlatih di rumah. Hehe … Saya pun turut mempersiapkan diri. Meski
tidak ada tuntutan untuk mengenakan pakaian tertentu, namun beberapa larang
ihram juga berlaku bagi wanita. Pakaian dan hijab pun pemakaiannya kami
sempurnakan lagi untuk memastikan bahwa aurat sudah benar-benar tertutup rapat
dan minim risiko tersingkap.
Beberapa menit sebelum pesawat melintas daerah
Yalamlam, pilot memberi pengumuman melalui speaker pesawat dan mengingatkan
untuk niat ihram. Sejak saat itu, larangan ihram berlaku dan kami berupaya
untuk benar-benar menjaganya. Tidak ada lagi obrolan-obrolan ringan, tidak ada
lagi bercandaan tidak perlu, kami fokus bertalbiyah di dalam hati, dan berkomunikasi
secukupnya sesuai kebutuhan.
Alhamdulillah, atas izin Allah SWT, penerbangan kami
sangat lancar. Kami tiba di Jeddah tepat saat adzan maghrib berkumandang di
seluruh bagian gedung bandara King Abdulaziz Internasional Airport. Begitu
keluar dari pesawat dan memasuki gedung terminal yang warnanya dominan putih,
suasana jadi benar-benar berbeda. Tidak ada lagi ‘kehangatan rasa rumah’ yang
masih terasa saat di bandara KLIA, hampir semua laki-laki berpakaian ihram,
sedangkan para wanita dominan menggunakan pakaian hitam polos. Semua orang
berjalan dengan cepat, seolah berlomba untuk mencapai garis finish terlebih dahulu.
Saya dan Mas menyempatkan untuk singgah di toilet sebelum melanjutkan prosedur
keluar bandara, dan di saat itu juga saya benar-benar merasa asing. Tidak ada
wajah yang kami kenal, bahkan tidak ada yang familiar sama sekali. Banyak orang
mengobrol namun dengan bahasa yang tidak saya mengerti. Akhirnya saya
memutuskan untuk menyegerakan aktifitas di toilet, karena berjauhan dengan Mas
membuat saya sedikit khawatir dan ketakutan.
Cukup lama saya menunggu di depan pintu toilet
laki-laki, sampai akhirnya Mas muncul dengan wajah yang juga sedikit panik.
“Sepertinya baju ihramnya Mas kena najis ini Dek,
nanti ingatkan untuk ganti ya di hotel,” begitu ucapnya tiba-tiba. Ternyata
selain belajar dan membiasakan memakai ihram, kita juga perlu persiapan mengenakan
ihram di dalam toilet agar tidak terkena najis. Ini penting dan perlu dicatat.
Diujung lorong gedung terminal yang panjang, tampak
banyak orang berkerumun, berbaris rapat dan terbagi menjadi 2 bagian, sisi
kanan dan kiri. Saya tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan dari jauh. Namun
setelah kami mendekat, ternyata itu adalah antrean untuk naik kereta otomatis
(APM/sejenis monorel) yang menghubungkan antara gate
keberangkatan/kedatangan dengan terminal utama. Kami pun turut serta mengantre.
Lagi-lagi semua orang bergerak dengan sangat cepat. Tidak butuh waktu lama
untuk antrean kembali menumpuk, namun di bagian depan juga pergerakan tidak
kalah cepat. Ada beberapa lapis antrean sampai akhirnya tiba giliran kami masuk
ke dalam kereta.
Ternyata tidak hanya manusianya, kereta APM ini pun
bergerak dengan sangat cepat, tidak peduli penumpang di dalamnya yang terhuyung
dan berusaha sekuat tenaga untuk tidak terjatuh. Tidak ada tempat duduk di
dalam kereta, jadi semua penumpang berdiri, satu tangan menjaga koper agar
tidak menggelinding sedang tangan yang lain berpegangan dengan erat ke hand
grip yang tersebar merata di seluruh penjuru kereta yang tidak terlalu
besar itu. Suasananya tegang sekaligus tenang. Tidak ada suara orang mengobrol,
tidak ada keramahtamahan khas Indonesia yang sering kita jumpai di kendaraan
umum, dan tidak ada juga yang sibuk telepon dengan suara lantang. Hanya
beberapa menit berlalu sampai kereta tiba di gedung utama bandara.
Begitu tiba di gedung utama kami langsung melalui
proses imigrasi yang berjalan dengan sangat lancar meskipun antrean cukup
panjang, kemudian dilanjut dengan pengambilan bagasi yang sungguh tidak kalah
cepat. Kedua koper kami tiba tepat saat kami sampai di conveyor belt
sehingga kami sama sekali tidak perlu menunggu. Sejurus kemudian, kami kembali
ingat informasi dari seorang teman bahwa begitu keluar dari pengambilan bagasi,
kami harus mengambil arah aquarium raksasa, kemudian turun satu lantai
menggunakan eskalator di sisi kanan. Segera kami mengikuti instruksi itu, namun
sempat terhenti sesaat untuk mengambil foto di depan aquarium.
“Mas foto di sana ya, nanti kirim ke Mas Andi,”
ujarku.
Mas Andi adalah salah satu teman kami di Jogja yang
juga menjadi motivator utama kami dalam melakukan umrah mandiri. Beberapa bulan
sebelum keberangkatan kami, mas Andi juga melaksanakan ibadaha umrah yang
dilakukan dengan mandiri, dan sempat berfoto di depan aquarium dengan
mengenakan kain ihram, dan mengirimkannya kepada Mas.
“Ayo, mas Rifai. Saya tunggu kabarnya ya, segera
berangkat,” begitu katanya.
Kami saat itu hanya bisa mengamini dalam hati.
Alhamdulillah,. Allah SWT kabulkan keinginan kami yang terbersit kala melihat
foto itu dengan memberi kesempatan yang sama saat ini, dan berfoto dengan
situasi yang hampir serupa pula.
Begitu menuruni eskalator yang terletak di sisi kanan,
seketika tampak counter NWBus, salah satu transportasi yang bisa
digunakan dari bandara ke Makkah. Kami segera mendekat dan memesan tiket untuk
2 orang menuju terminal Jarwal, Makkah, dengan harga 44SAR per orang. Petugas counter
menginformasikan bahwa bus akan berangkat 15 menit lagi, sambil menunjukkan
jalan ke arah parkiran bus, serta mempersilakan kami duduk di ruang tunggu yang
tersedia tidak jauh dari counter itu. Kami sempat duduk sejenak,
mengistirahatkan kaki yang sudah berjalan sekitar satu jam terhitung sejak
keluar dari pesawat tadi.
“Alhamdulillah … alhamdulillah … lancar banget ya Mas,
prosesnya,”
Air mata tak lagi bisa saya bendung. Kami sudah sampai
sejauh ini, dan tinggal sedikit lagi hingga kami tiba di tempat tujuan. Tak lama berselang, ada seorang laki-laki menyapa kami
tanpa ragu dengan bahasa Indonesia.
“Umrah mandiri ya?” tanyanya langsung.
Mas segera menanggapi dan mengobrol singkat. Ternyata
dia adalah salah seorang mahasiswa asal Indonesia, namun saya kurang jelas berkuliah
di mana. Dia baru saja mengantar orang tuanya pulang, dan akan naik NWBus juga
menuju ke Makkah.
“Ayo ke bus, sudah mau berangkat ini jadwalnya,”
ajaknya.
Kami kemudian segera bergegas menuju Bus yang telah
pakir tak jauh dari pintu keluar. Segera setelah meletakkan barang di bagasi,
petugas Bus memindai tiket kami kemudian mempersilakan kami masuk.
Perjalanan dari Jeddah ke Makkah memakan waktu hampir dua
jam. Alhamdulllah, saya sempat tertidur sejenak di Bus, mungkin karena sudah
kelelahan akibat perjalanan yang cukup panjang. Namun semakin lama perjalanan
terasa makin sering tersendat, yang ternyata itu adalah pertanda bahwa kami
sudah hampir sampai. Sesekali dari jauh, tampak clock tower (Abraj Al
Bait) dengan lampu hijaunya menyala terang, menjadi penanda bahwa ke sanalah
bus yang saya tumpangi menuju.
Bus yang kami naiki akhirnya tiba di terminal Jarwal
yang ternyata tidak terlalu besar. Begitu ambil barang di bagasi, saat itu juga
kami langsung melihat Deden yang berdiri di depan bus, lengkap dengan kacamata
dan pakaian ihram serta tas punggung kecilnya, berjalan dan tersenyum ke arah
kami.
“Assalamualaikum,…” sapanya ramah yang kemudian
disambut dengan pelukan oleh Mas.
Saat itu juga hati saya menghangat. Ketegangan
sepanjang perjalanan, kelelahan di seluruh badan, rasa kantuk yang tak
terhingga, segala ketakutan dan kekhawatiran yang menghantui, seketika menguap
begitu saja. Allah SWT memberikan begitu banyak kemudahan dalam perjalanan kami.
Saaangat banyak. Alhamdulillah … Alhamdulillah …
Jika di tulisan
ini dan part sebelumnya saya sempat beberapa kali menyebut ‘teman kami’,
maka hampir bisa dipastikan bahwa sosok itu merujuk pada Deden. Muhammad Deden
Irwandi lengkapnya, mahasiswa asal Indonesia yang dulunya berdomisili di Jogja
dan saat ini tengah menempuh pendidikan S2 di King Abdulaziz University Jeddah
jurusan Kritik Sastra Arab. Selain mas Andi, dia adalah salah satu tokoh
penting yang juga meyakinkan kami untuk melakukan perjalanan umrah ini secara
mandiri. InsyaAllah, selama ibadah umrah kali ini Deden akan menjadi muthowwif
sekaligus pemandu kami selama berada di Makkah.
Ternyata kami sampai di terminal Jarwal bertepatan
dengan selesainya sholat isya berjamaah di Masjidil Haram. Awalnya kami
berencana untuk menggunakan taksi menuju hotel. Namun Deden menjelaskan bahwa
di jam seperti ini jalanan masih sangat padat baik untuk keluar dari terminal
maupun menuju hotel. Selain karena masih banyak jalan yang ditutup, jamaah pun
masih tumpah ruah di jalan. Kami membenarkan karena bus yang kami tumpangi tadi
juga cukup lama terjebak macet sebelum akhirnya berhasil tiba di terminal.
Akhirnya kami memutuskan untuk jalan kaki dari terminal Jarwal ke hotel yang
jaraknya hampir 3km. Alhamdulillah, jarak yang cukup jauh tidak terlalu terasa
karena padatnya manusia. Ada tanjakan,
banyak turunan, sampai akhirnya kami tiba di pelataran Masjidil Haram area
perluasan. Kami sempat beristirahat sejenak untuk melepas lelah. Deden menawarkan
untuk mengambilkan air zamzam dan kami menyambutnya. Alhamdulillah, kami teguk
untuk pertama kalinya air zamzam langsung dari sumbernya dan rasanya sangat
luar biasa.
Kami melanjutkan berjalan kaki ke arah Misfalah,
Ibrahim Al Khalil street, tempat dimana hotel kami berada. Sempat singgah
sejenak di Bangladesh Restaurant untuk membeli makan yang letaknya hanya
selisih beberapa gedung dari hotel kami. Begitu sampai di hotel, kami bisa
langsung masuk ke kamar tanpa melakukan proses check in terlebih dahulu
karena Deden sudah melakukannya sore harinya. Alhamdulillah … kami tiba di
hotel Emaar Al Manar, Ibrahim Al Khalil Street, sekitar jam 11 malam dengan
lengkap, utuh, tak kurang suatu apa pun kecuali rasa syukur yang berlimpah. Semoga
Allah SWT senantiasa memudahkan kami dalam menjaga kondisi ihram ini, dan
menjauhkan kami dari apa-apa yang dilarang oleh-Nya.
"Bisa jadi,
keajaiban hidup tidak hadir dalam bentuk sesuatu yang mencengangkan,
menakjubkan, atau di luar nalar manusia. Melainkan hadir dalam bentuk
kelancaran, ketenangan, pertemuan dengan orang-orang baik, waktu yang tepat,
serta kemampuan untuk menyadari bahwa semua ini cukup. Alhamdulillah."














Comments
Post a Comment
Speak Up...!!! :D