Catatan Perjalanan Hati 2025 (Part 3)

 Jumat, 4 April 2025

Kami dan Deden bersepakat untuk melaksanakan ibadah umrah pada dini hari, yang artinya kami masih punya waktu sekitar 2-3 jam untuk beristirahat. Alhamdulillah, saya kira ini keputusan yang sangat tepat dengan harapan ibadah umrah wajib kami bisa maksimal nantinya. Meskipun benar juga apa yang dikatakan Deden saat manasik online yang kami lakukan beberapa waktu sebelum keberangkatan, banyak jamaah yang seketika bersemangat, lelah dan kantuk hilang, begitu tiba di Masjidil Haram. Ghirah beribadah kami rasanya sudah sampai di ubun-ubun, tapi menjaga fisik agar tetap prima juga merupakan hal wajib yang perlu diperhatikan.

Apakah kalian merasa di catatan perjalanan hari sebelumnya ada yang terlewat? Jika ya, berarti kalian benar. Kami baru menyadari kalau kami belum shalat Maghrib dan Isya pada hari sebelumnya, sesaat sebelum berangkat ke Haram, sekitar jam 3 dini hari. Gedebag-gedebug lah itu, yang harusnya sudah siap berangkat jadi mundur beberapa waktu karena kami langsung shalat maghrib dan isya jama’ ta’khir qashar di dalam kamar hotel. Begitu selesai dan sekira semua telah siap, kami langsung melangkah menuju Haram.

Kesan pertama yang saya dapat begitu keluar dari lobby hotel adalah, hangat! Alhamdulillah,.. Sesekali angin kencang bertiup, namun bukan angin yang dingin, dan cuacanya benar-benar hangat yang membuat nyaman, bukan gerah. Bisa jadi karena semalam tidur dalam kamar ber AC ya, jadi cuaca di luar yang cukup berbeda justru membuat nyaman, bukan perubahan ekstrem yang membuat tubuh menjadi kaget. Dan, setelah kembali memperhatikan sekitar, saya pikir jika tanpa melihat jam di tangan saya tidak akan percaya kalau itu jam 3 pagi. Kondisi Ibrahim Al Khalil street cukup ramai, toko-toko masih buka, banyak pula yang bertransaksi jual beli pada dini hari itu. Arus manusia beraneka ragam, ada yang menuju ke Haram, ada juga yang ke arah sebaliknya.

Kami dan Deden bertemu di depan hotel Swissotel Al Maqam, tepat di bawah ringroad pertama, yang seharusnya jam 3 pagi namun kami terlambat. Sebenarnya saya belum terlalu tahu lokasi pasti hotel itu, namun Mas menyampaikan dengan yakin bahwa semalam melihat tulisan itu saat dalam perjalanan dari Haram ke hotel kami. Baiklah, kita ikuti saja. Alhamdulillah, setelah sedikit memutar karena jalan menuju Swissotel sudah tertutup barikade, kami akhirnya bertemu.

Bersama beberapa orang yang juga melakukan umrah secara mandiri, kami bersepakat untuk melaksanakan ibadah umrah bersama, dengan dibimbing oleh Deden. Setelah melakukan perkenalan dan briefing singkat dengan beberapa orang yang sebelumnya hanya berkomunikasi lewat WA grup, kami mulai melangkahkan kaki menuju Masjidil Haram diiringi dengan bacaan talbiyyah. Haru mulai menyergap. Rasa hangat yang tadi muncul ternyata tidak hanya menyelimuti raga, namun juga seluruh jiwa kami.

Lepas alas kaki, baca doa sebelum masuk masjid, masuk melalui King Abdulaziz Gate, berbelok sedikit ke arah kanan kemudian turun dengan eskalator, dan Kiblat umat muslim sedunia akhirnya terpampang dengan jelas dan nyata tepat di depan mata. Sesaat langkah tertahan, hanya dzikir dan rasa syukur membuncah yang bisa kami haturkan. Deden mengingatkan Mas dan beberapa jamaah laki-laki yang lain untuk ber-idtiba’, kemudian kami segerakan memulai proses thawaf dari rukun hajar aswad.

“Bismillaahi Allaahu Akbar”

--

Adzan subuh berkumandang tepat saat kami selesai melaksanakan shalat sunnah thawaf di belakang Maqam Ibrahim. Kami kemudian bersepakat untuk mencari tempat sholat terlebih dahulu, dan berpisah antara jamaah laki-laki dan perempuan. Saya dengan dua orang teman, memilih untuk sholat di pelataran Ka'bah area dalam, arah menuju jalur Sa’i. Alhamdulillah, Allah SWT telah mengatur segalanya untuk kami dengan sebaik mungkin. Ditengah kebingungan karena masih buta arah dan belum banyak tahu area Masjidil Haram, ditambah banyaknya jamaah yang sudah membentuk shaf-shaf sempurna—bersiap untuk shalat subuh berjamaah, ada satu ruang kosong yang sangat cukup untuk kami, tiga orang dewasa dan satu anak kecil. Segera setelah menggelar sajadah, kami melakukan shalat sunnah qobliyah subuh sambil menunggu saat iqamah tiba.

Saya tidak bisa bercerita banyak terkait rangkaian ibadah umrah pertama kami. Bukan karena lupa atau enggan, hanya saja, rasa yang ada terlalu istimewa jadi tidak bisa diwakili oleh rangkaian kata apa pun. Ternyata kosakata yang saya miliki masih terlalu terbatas untuk bisa menggambarkan perasaan saya saat itu. Satu hal yang pasti saya ingat betul adalah, sepanjang kaki ini melangkah, sepanjang itu pula tak hentinya air mata mengalir. Ada saat dimana tiba-tiba hening menyergap dan yang tertangkap oleh pendengaran hanyalah isak dari dalam diri sendiri. Saya juga ingat, sesekali Mas, yang berada tepat di belakang saya, yang menjadi sweeper dalam rombongan kecil yang tengah berbaris mengitari inti permukaan bumi itu, menepuk pundak saya beberapa kali. Bukan untuk memanggil, bukan untuk mengingatkan sesuatu, melainkan untuk menenangkan. Mungkin ada saat dimana isak tangis saya terlalu kencang, hingga membuat bahu berguncang, dan bisa jadi mengganggu orang lain di sekitar.

Sa’i itu berat. Jauh lebih berat dari pada thawaf, kata Deden, dan saya tidak membantah sama sekali. Setiap kali tiba di pucak bukit Shafa dan Marwa, doa kembali dilantunkan. Tak jarang ada yang memutuskan untuk duduk sejenak, beristirahat setelah menempuh perjalanan sekian ratus meter sekali jalan. Hingga sempurnalah sa’i ketujuh kami, dan menutup segala rangkaian ibadah umrah kali itu dengan tahallul. Alhamdulillah … Alhamdulillah … atas izin Allah SWT, ibadah umrah wajib kami telah tuntas.

rombongan kecil kami 

apa itu foto estetik di depan Ka'bah?

Selesai rangkaian ibadah umrah, tidak jauh dari area sai, kami membeli wadah air zamzam yang dijual di pinggir-pinggir jalan dengan harga 5 SAR—wadah plastik berwaran biru berkapasitas 5 Liter. Biasanya banyak jamaah yang membeli wadah ini kemudian mengambil air zamzam langsung dari kran untuk dibawa pulang ke hotel, sebagai bekal minum selama di hotel, atau dengan tujuan lain. Saya tidak tahu pasti hukum mengenai hal ini seperti apa. Namun saat itu Deden menyampaikan bahwa beberapa ulama berpandangan bahwa hal tersebut adalah haram, karena air zamzam diperuntukkan bagi para jamaah yang mengunjungi Masjidil Harom, dan lebih diutamakan untuk diminum di tempat. Mendengar penjelasan itu tentu saja saya jadi ragu, tapi Mas sudah telanjur mengisi wadah tersebut dengan air zamzam meskipun tidak sampai penuh. Kami juga berpendapat, mungkin yang tidak diperbolehkan itu adalah jika air zamzam ini kemudian diperjualbelikan. Jika untuk konsumsi sendiri harusnya tidak apa. Karena benar saja, ada beberapa jamaah yang kami lihat mengambil air zamzam dalam jumlah yang sangat banyak sampai berbotol-botol hingga antrean panjang terjadi di belakangnya. Pada akhirnya kami memutuskan bahwa itu adalah kali pertama dan terakhir kalinya kami mengambil air zamzam dengan wadah plastik besar. Semoga kita dijauhkan dari hal-hal yang membuat kita dzolim terhadap orang lain.

Kami segera kembali ke hotel untuk mengejar sarapan karena waktu makin beranjak siang. Salah satu alasan besar kenapa saya memilih hotel yang menyediakan sarapan, karena saya tidak ingin pagi-pagi yang mungkin masih setengah mengantuk saya harus dibebankan dengan mencari sarapan. Disamping, saya dan Mas memang sudah terbiasa sarapan, hampir tidak pernah terlewat, kecuali saat sedang berpuasa. Sarapan pertama di hotel, tema menunya full timur tengah namun tidak ada nasi mandhi/biryani. Sebagai sumber karbohidrat tersedia kentang goreng, rerotian beraneka bentuk, juga berbagai macam sereal. Selain itu juga ada kacang-kacangan dan biji-bijian entah apa namanya, juga tersedia salad sayur yang rasanya ajaib-ajaib dengan begitu banyak pilihan dressing.

         

Sedari awal kami sudah menyadari risiko ini, sarapan di restoran hotel yang lokasinya sangat jauh dari tanah air, tidak mungkin kami berharap ada menu nasi uduk atau soto apalagi bubur ayam untuk pilihan menu di pagi hari. Alhamdulillah, saya dan Mas cukup terbuka terhadap sesuatu yang baru, termasuk menu-menu yang benar-benar baru dan kami sama sekali tidak memiliki gambaran mengenai rasa berbagai masakan itu. Ditambah, sepertinya hotel yang saya tempati tidak terlalu populer untuk jamaah Indonesia dan Asia tenggara. Terbukti bahwa setelah beberapa malam menginap, sangat jarang sekali kami bertemu atau berpapasan dengan jamaah Indonesia.

Hari pertama saya memutuskan untuk mencoba beberapa sayuran yang tersedia. Banyak yang benar-benar asing dan tidak saya kenali, namun tetap saja rasa penasaran ingin mencoba cukup tinggi. Saya ambil sedikit saja setiap jenis sayuran itu hingga piring saya hampir penuh, kemudian mencoba beberapa pilihan dressing yang ternyata dominan yoghurt namun dengan berbagai sensasi rasa. Sebenarnya saya termasuk orang yang lumayan suka makan lalapan atau sayuran mentah, tapi ternyata ada beberapa sayur yang menurut saya sangat asing, sama sekali tidak bisa ditoleransi apalagi diterima oleh lidah, dan butuh waktu lama hingga sensasi rasa yang agak tidak nyaman itu bisa benar-benar hilang. Hahaha… sepertinya saya terlalu percaya diri. Alhasil ada sebagian kecil makanan yang saya ambil tidak saya habiskan.

Sebagai penetral, saya kemudian mengambil roti manis yang tak kalah banyak pilihannya, namun rasanya sangat enak dan nyaman di lidah. Tak jauh beda dengan roti-roti khas bakery Indonesia, namun dengan variasi yang berlimpah.


Ini hari jumat, dan saya baru ingat kalau beberapa rekan di komunitas Umrah Mandiri pernah menyampaikan bahwa jika ingin shalat jumat di Haram, harus bergegas berangkat ke Masjid sesegera mungkin. Namun kami sepertinya terlambat karena selepas sarapan sempat tertidur lagi. Jam 10 pagi kami baru bangun kemudian bersiap untuk ke Masjidil Haram kembali sekitar jam 11 siang, ternyata begitu keluar dari hotel jalanan sudah menjadi lautan manusia. Semua berjalan kaki dan mengarah ke satu titik yang sama: Masjidil Haram. MaasyaaAllah. Dari jauh, tampak beberapa jalan menuju Masjidil Haram telah ditutup dengan barikade. Kami tidak ingin masih sibuk mencari tempat sedang khatib sudah naik mimbar, atau malah tidak mendapat tempat yang layak untuk shalat. Akhirnya kami memutuskan untuk sholat jumat di area sholat tambahan, tepat di sisi selatan clock tower (Masjidil Haram terletak di sisi utara clock tower). Area tambahan sholat ini merupakan bangunan semi permanen dengan atap rangka baja terdiri dari beberapa baris, beralaskan plester, dan dikelilingi oleh pagar yang sepertinya hanya dibuka saat kegiatan sholat di waktu tertentu berlangsung. Ternyata area shalat tambahan itu juga sudah hampir penuh, namun Alhamdulillah kami berhasil mendapatkan tempat yang nyaman di area yang teduh.

Nah, sepertinya ini adalah shalat jumat pertama saya sepanjang hidup. Kemudian dengan bodohnya saya baru menyadari bahwa masih banyak hal terkait shalat jumat yang belum saya pelajari. Duh,.. inginnya saja bisa mendapat 2 jumat sepanjang perjalanan umrah kali ini, namun persiapannya nol besar. Malu sekali rasanya. Saya sempat bingung, apakah sholat jumat juga ada sholat sunnah sebelum jumat? Kemudian apa yang harus saya lakukan saat khotib membacakan khotbah, apakah diam mendengarkan atau boleh sambil dzikir dan membaca Al Quran? Saya bertanya kepada Mas melalui WA, dan untungnya segera dijawab tidak lama kemudian, sebelum rangkaian ibadah jumat itu dimulai.

“Ada qobliyah jumat, dan kalau khotbah diam. Tidak boleh dzikir atau mengaji”, jawabnya singkat. Baiklah. Saya memutuskan untuk segera menuntaskan bacaan Al Kahfi di siang yang terik itu sambil menunggu waktu khatib naik mimbar.

Dalam perjalanan kembali ke hotel, kami menyempatkan singgah di apotek yang banyak tersebar di Ibrahim Al Khalil street untuk berbelanja pasta gigi yang sebelumnya disita petugas bandara karena kemasannya terlalu besar dan tidak masuk bagasi terdaftar. Ternyata benar yang diinfokan oleh teman-teman di komunitas umroh mandiri, bahwa obat-obatan, termasuk juga pembalut dan peralatan mandi (sabun, shampo, pasta gigi, dll) di Makkah dan Madinah itu mahal. Satu pasta gigi berukuran sedang kami dapat dengan harga 48 SAR (sekitar Rp. 200.000). Tidak ada kegiatan tawar menawar meskipun sepertinya memungkinkan, anggap saja ini sebagai rejeki kami mendapat kesempatan mencoba pasta gigi made in tanah Arab.

Kakak saya melalui sambungan telepon bertanya, sesaat setelah kami mengabarkan kalau rangkaian ibadah umrah wajib kami telah selesai kami tunaikan.

“Terus, habis gitu ngapain ya?” tanyanya.

“Ga ada. Ya, sholat aja sama ibadah lain yang bisa dikerjain. Balik ke hotel, pas sudah dekat waktu sholat ke masjid lagi. Begitu aja. Hehe…” Jawab saya sambil bercanda, meskipun sebenarnya yang saya sampaikan tidak ada yang bernilai candaan sama sekali.

Kalau ada yang bilang bahwa sejatinya hidup manusia hanyalah menunggu waktu shalat, yang mana di kehidupan biasa yang kita lalui sehari-hari rasanya hal itu tidak mungkin, ternyata adalah sesuatu yang sangat mungkin dilakukan saat kita berada di tanah Haram. Salah satu alasan mengapa saya dan Mas memilih waktu libur di bulan syawwal untuk umrah perdana kami, bahkan kami berangkat h+2 idul fitri dan melewatkan banyak momen berkumpul dengan keluarga dan kerabat, adalah karena kami tidak ingin dalam perjalanan kami nantinya masih disibukkan dengan perkara duniawi. Ya, pertahanan diri saya tidak sekuat itu untuk mengabaikan berbagai notifikasi dari konsumen yang tanya harga dan jadwal pekerjaan, komunikasi dengan karyawan dengan segala pembagian tugasnya, dan lain sebagainya. Alhamdulillah, selama di Makkah, yang mana memang Paperief masih libur, Allah SWT mudahkan kami untuk benar-benar fokus. Menjauh dari perkara duniawi dan membatasi komunikasi serta penggunaan sosial media, membuat ibadah yang kami lalui terasa jauh lebih nyaman.

Perjalanan umrah kali ini terasa seperti perjalanan ‘pulang’ bagi saya. Pulang ke rumah yang bahkan sebelumnya tidak pernah saya kunjungi, namun saya menerima sambutan yang sangat hangat. Pulang ke tempat di mana hati ternyata merasa sangat nyaman dan betah, ditengah hiruk pikuk keterasingan jutaan manusia dengan masing-masing identitasnya. Jika saat pertama kali mendarat di bandara Jeddah saya merasakan situasi yang mencekam, maka di Haram rasanya sungguh berbeda, berbalik 180o. Entahlah, saya tidak tahu apakah sebagian besar tamu Allah yang ada di sana merasakan hal yang sama. Saya hanya bisa banyak bersyukur atas hal itu.

Sekitar 1-2 jam sebelum maghrib kami menuju gate 74 Masjidil Haram, menyengaja ingin melewatkan sore itu di rooftop yang terdapat 3 kubah coklat. Alhamdulillah, tanpa ada drama tersasar, kami langsung tiba di rooftop yang kondisinya belum terlalu padat. Pemandangan dari atas ternyata sungguh luar biasa. Dengan jelas terlihat berbagai bangunan yang mengelilingi Masjidil Haram, dan clock tower tampak begitu megah dan dekat, padahal kalau jalan ke sana sebenarnya lumayan jauh. Mungkin karena saking besar bangunannya—dan luasnya Masjidil Haram tentunya.

Saat suasana masih lengang, alhamdulillah kami sempat mengambil beberapa gambar. Saya ingat saat itu ada WA dari seorang sahabat, menyampaikan selama Idul Fitri dan menanyakan kapan saya pulang ke Gresik? Saya tidak menjawab apa-apa, dan hanya mengirim foto dengan latar belakang Abraj Al Bait yang menjulang.

“Heiii… Aku lagi ada di siniii sekaraaang,” jawabku bersemangat. Sepertinya itu pertama kalinya saya menyampaikan kalau sedang dalam perjalanan umrah ke orang di luar keluarga inti dan beberapa karyawan di toko. Sahabat tersebut menyambut cerita saya dengan sukacita, kemudian mengirim serangkaian doa yang ingin ia panjatkan. Alhamdulillah, saat itu juga, dan dalam beberapa kali kesempatan thawaf sunnah, sudah saya bacakan berulang doanya. InsyaAllah,..

Menyaksikan pergantian siang dan malam di rooftop Masjidil Haram ternyata memang istimewa. Langit sore itu sungguh cerah dan bersih. Salah satu pengalaman luar biasa bisa menyaksikan perpindahan waktu dari terang ke gelap di tempat terbuka sekaligus melaksanakan shalat Maghrib berjamaah. Saat di rooftop ini, saya melihat beberapa orang bersedekah kurma dan beberapa makanan lainnya, sempat sedih saat saya tidak mendapat apa-apa dan tidak ada yang menawari saya makanan, sedangkan mas cerita kalau saat jelang maghrib tadi ditawari orang kurma dan dia memakannya, dan rasanya enak sekali. Jauh lebih enak dibanding kurma yang ada di Indonesia yang selama ini kami makan. Saya menghibur dan meyakinkan diri sendiri kalau insyaAllah nanti ada saatnya saya mendapat giliran itu.

Menjelang shalat Isya, kami memutuskan untuk masuk ke area dalam Masjidil Haram karena angin dirasa agak kencang. Sejujurnya, kami masih belum terlalu mengenali area di dalam Masjid, jadi ya kami asal masuk ke pintu mana saja yang masih terbuka, kemudian mengikuti petunjuk arah yang menuju ke mataf. Kami berjalan terus mengikuti arus, melewatkan banyak shaf-shaf shalat yang sebagain besar sudah terisi, yang belakangan saya tahu adalah area dalam masjid bangunan lama. Sampai di ujung, akhirnya kami tiba di area thawaf, sepertinya di lantai 2, karena di sana banyak jamaah yang melakukan thawaf tanpa menggunakan kain ihram. Kami sempat melakukan thawaf sunnah sekali putaran, namun Mas menyerah karena punggung mulai terasa agak sakit. Entah karena jalur thawaf yang dua kali lipat lebih jauh dibanding thawaf di mataf (pelataran ka’bah), atau tubuh yang masih beradaptasi dengan aktifitas fisik terutama jalan kaki yang memang luar biasa jauhnya. Akhirnya Mas kembali ke area shalat yanng jaraknya tidak jauh dari rute thawaf, dan kami menggunakan patokan tulisan angka di sisi kanan area thawaf untuk menandai Mas berhenti di mana, nanti saya tinggal ikut mencari di dekat situ jika selesai tahwaf. Namun tidak sampai 7 putaran, ternyata sudah waktunya shalat Isya. Akhirnya saya sesegera mungkin ke tempat dimana Mas tidak jauh berada dan bergabung dengan shaf jamaah perempuan lainnya.

Jika ada yang bilang umrah di bulan syawwal situasinya sudah lebih lengang dibandingkan bulan-bulan yang lain, sepertinya saya tidak bisa percaya begitu saja. Malam itu, selepas shalat isya dan semua jamaah secara serentak menuju pintu kluar Masjidi Haram, lautan manusia terpampang dengan sangat nyata di depan mata. MaasyaaAllah… tidak pernah terbayangkan sebelumnya ada tempat di muka bumi ini dimana seluruh umat muslim berkumpul di satu titik, dan bersama-sama melaksanakan ibadah semata-mata menjalankan kewajiban kepada Allah SWT. Saya merasa sangat kecil ditengah manusia yang entah dari mana saja asalnya malam itu.

Dalam perjalan pulang menuju hotel, kami singgah di warung makan yang sama, Bangladesh Restaurant. Kali ini kami memesan nasi dan ikan patin kuah kari, yang sungguh tidak kami sangka bahwa rasanya saaaaaangat enak. Uniknya, selain nasi tipikal beras basmati namun putih (bukan nasi kebuli atau semacamnya) serta satu potong besar ikan patin beserta kuah, di dalam bungkusan itu juga ada dua buah cabai hijau segar dan besar. Awalnya kami bertanya-tanya, ini cabai buat apa ya? Masa iya dimakan langsung seperti lalapan, begitu? Namun karena tidak ada orang yang bisa ditanyai di dalam kamar hotel itu selain kami berdua, akhirnya kami berinisiatif untuk mencoba memperlakukan cabai hijau itu seperti lalapan timun. Surprisingly, enakkk!!! Hahaha.. saya dan Mas sempat tertawa dan terheran-heran dengan sensai rasa yang ditimbulkan cabai hijau itu, bercampur dengan ikan patin yang bumbunya meresap sempurna, serta kuah kari yang benar-benar solid rasanya dan sangat nyaman di lidah kami. Alhamdulillah…

Ritual baru sebelum tidur kami lakukan malam itu, yakni mengolesi kaki dan punggung dengan minyak zaitun serta cream panas untuk melemaskan otot tubuh secara bergantian. Perjalanan masih panjang, masih banyak yang harus kami kerjakan dan kami lalui, dan kesemuanya itu membutuhkan fisik yang prima. Bismillah,. insyaAllah Allah SWT mampukan kami untuk menuntaskan rangkaian ibadah di tanah suci ini dengan maksimal.


Mungkin fisik kami lelah, namun hati kami penuh. Penuh oleh rahmat Allah SWT yang melimpah ruah untuk seluruh penduduk bumi. Alhamdulillaahilladzii bini'matihii tatimmus shoolihaat.

Comments

Popular Posts