Catatan Perjalanan Hati 2025 (Part 4)
Sabtu, 5 April 2025
Semalam, saat berada di pelataran Masjidil Haram
bubaran shalat isya, Mas melakukan panggilan video dengan seorang teman
sekaligus tetangga di Jogja yang juga tengah melaksanakan ibadah umrah bersama
Batik Umrah Travel. Teman ini sudah lebih dulu berangkat umrah, bahkan
melewatkan Idul Fitri di Madinah. Begitu panggilan video tersambung, teman
tersebut kaget bukan main saat mengetahui bahwa kami juga sedang berada di
Haram. Kami memang tidak banyak mengabarkan tentang rencana keberangkatan kami,
hanya kepada keluarga inti, beberapa kerabat dekat, tetangga juga hanya satu
dua orang sepertinya. Segera saja kami bersepakat untuk keesokan harinya
bertemu. Ternyata itu adalah malam terakhir teman tersebut berada di Haram.
Esok sorenya sudah akan bertolak kembali ke Indonesia. Alhamdulillah,
kesempatan untuk bertemu masih ada, meskipun hampir setiap hari juga bertemu di
masjid dekat rumah tapi tetap saja rasanya berbeda dan istimewa.
Selepas ibadah subuh dan dhuha di haram, kami bergegas
ke hotel tempat teman menginap yang terletak di area Ajyad, wilayah yang belum
pernah kami kunjungi. Nah, berkebalikan dengan area Misfalah tempat kami
menginap, di Ajyad ini justru sangat mudah ditemukan jamaah asal Indonesia.
Bahkan, ini murni kesimpulan saya sendiri ya, bisa dibilang sebagian besar
jamaah asal Indonesia yang melaksanakan ibadah Umrah menggunakan travel,
menginap di area Ajyad, atau kalau yang premium sekalian ya pilihannya di
kompleks Abraj Al Bait.
Tidak sulit menemukan hotel Mira Ajyad yang terletak
di King Abdulaziz Road. Bagian bawah hotel ini merupakan komplek pertokoan Mira
Mall, kemudian lantai diatas serta selanjutnya adalah restoran dan hotel. Teman
tersebut kemudian mengajak kami langsung ke restoran hotel karena kedatangan
kami bertepatan dengan jam sarapan. Ada
kebahagiaan tersendiri saat mengetahui bahwa menu di restoran ini Indonesia bangett:
nasi putih, telur dadar, dan mie goreng. Tidak hanya menunya, rasanya pun
sangat ramah di lidah orang Indonesia. Saya tidak ingin melewatkan kesempatan
untuk sarapan menu nusantara ini, meskipun tetap berusaha menyisakan tempat
untuk sarapan di hotel nanti—yang tetap tidak boleh terlewat begitu saja. Hehe…
Hari ini rasanya kami memiliki cukup banyak waktu luang untuk mengeksplor area Masjidil Haram dan sekitarnya. Kami juga sempat melaksanakan shalat berjamaah di Masjid Abu Bakar, yang terletak di Makkah Tower lantai … puncak! Ahh, saya lupa ada di lantai berapa—sepertinya lantai 3, pastinya naik eskalator yang viral di samping K*C itu hingga ujung paling atas, kemudian masuk ke dalam gedung dengan pintu kaca, lalu tinggal ikuti saja petunjuk arah menuju Masjid Abu Bakar. Dari dalam masjid ini, saya bisa melihat jalan yang kami lalui jika menuju ke Masjidil Haram dari hotel, juga sebaliknya. Dari dinding kaca masjid juga tampak beberapa hotel di komplekes Abraj Al Bait dari sisi barat, diantaranya Elaf Kinda Hotel dan Swissotel Al Maqam. Diam-diam terbersit doa, insyaAllah kunjungan kami selanjutnya baik untuk umrah maupun haji, inginnya bisa menginap di hotel Elaf Kinda. Aamiin. Entah, rasanya sangat nyaman saja, dan sangat dekat dengan Haram, namun bukan yang terlalu populer seperti hotel lain yang harus masuk melalui pintu mall.
Tepat di puncak eskalator, sebelum masuk ke dalam gedung, di sebelah kiri ada sebuah kedai kecil bernama Shawarma City, khusus menjual berbagai jenis shawarma dengan banyak pilihan isi. Iseng kami lihat pilihan menunya kemudian memutuskan untuk mencoba shawarma udang. Rasanya??? Super enakkk. Udangnya besar-besar, sausnya berlimpah, dan porsinya jumbo. Cukup mengenyangkan untuk kami makan berdua. Sebagai gambaran, shawarma kalau di Indonesia lebih populer dengan nama kebab. Entah bagaimana caranya yang dari tanah Arab namanya shawarma, begitu masuk ke Indonesia jadi memiliki nama lain yang sungguh jauh berbeda.
Tidak jauh dari kedai Shawarma City tersebut, masih di
dalam kompleks Makkah Tower, ternyata di bagian dalam sisi kanan ada banyak
kedai yang juga menjual berbagai makanan, terutama makanan cepat saji. Juga
terdapat banyak meja kursi tempat pengunjung bisa makan. Kami memutuskan duduk
di salah satu kursi yang tidak jauh dari pintu masuk, lalu Mas tiba-tiba
nyeletuk.
“Kok pengin minum soda ya, Dek?”

happy banget berhasil beli soda sendiri ^^
Saya kaget tentunya, karena bahkan dalam sehari-hari pun, kami jarang sekali meminum soda. Satu tahun sekali juga belum tentu. Akhirnya saya tantang Mas untuk pergi sendiri dan memesan soda di kedai terdekat dari meja kami. Saya mengajari langsung bagaimana cara bertanya harga dan memesan minuman, dan dengan sedikit paksaan akhirnya Mas bersedia. Sambil tetap memantau dari jauh interaksi antara Mas dan penjual, yang sempat tampak kebingungan saat menghitung uang koin yang digunakan untuk membayar—harga seporsi soda adalah 7 SAR, akhirnya sebotol pepsi cola berhasil di dapat dengan lancar. Alhamdulillah.
Langit Masjidil Haram di siang menjelang sore ini agak berawan, namun tetap cerah. Terik, namun tidak menyiksa. Hangat, namun tidak gerah. Ahh,. bagaimana ya cara mendeskripsikannya? Setelah melihat berkeliling, kami memutuskan untuk menghabiskan
waktu di pelataran masjid, mengobrol tentang banyak hal, sesekali melakukan
panggilan video dengan keluarga di tanah air, serta membuat video-video pendek
berisi berbagai doa untuk dikirimkan ke sanak saudara. Sempat ada insiden
wireless microphone milik Mas hilang satu, entah sepertinya tersenggol saat
berdesakan di dalam toilet. Sempat kami upayakan untuk mencari-cari benda kecil
berdiameter sekitar 3cm itu, namun keramaian di Masjidil Haram sore itu membuat
kami menyerah. Baiklah, insyaAllah akan ada pengganti yang lebih baik. Jelang
maghrib kami masuk ke dalam masjid untuk mendapat tempat shalat yang lebih
nyaman. Kami kembali mengikuti petunjuk arah ke Mataf, dan lagi-lagi mendapat
tempat shalat yang tidak jauh dari tempat kami di hari sebelumnya.
Saat menunggu adzan maghrib tiba, akhirnya ada yang
membagikan kepada saya makanan dan laban (yoghurt). Saya bukan pecinta susu
atau yoghurt, tapi tidak apa, tetap saya makan dan saya nikmati. Alhamdulillah.
Ada juga yang membagi buah apel yang sudah dipotong, beberapa biji kurma, dan
kue selai seperti nastar namun agak berbeda. Senang rasanya dengan ghirah
jamaah untuk bersedekah, tidak melihat banyak atau sedikitnya, serta barang apa
yang disedekahkan, jumlahnya mencukupi atau tidak. Asal ada apapun yang
dipunya, semua dibagikan. Bahkan sesederhana mengambilkan air zamzam untuk
tetangga kanan-kiri shaf sholat juga dilakukan. Begitu besar keinginan untuk
berbuat baik kepada sesama, dan hal ini lagi-lagi membuat haru. Luar biasanya,
tidak ada juga yang nyinyir atau komplain jika hanya mendapat sedikit bagian
atau bahkan tidak mendapatkan apa-apa.
Alhamdulillah, keinginan saya di hari sebelumnya untuk
mendapat makanan dalam bentuk apa pun diwujudkan Allah SWT. Bahkan sampai
berlebih. Beberapa makanan yang tidak habis saya bawa pulang dan dimakan oleh
Mas.
Selepas isya kami kembali bertemu dengan Deden untuk makan di salah satu tempat makan yang ‘cukup Indonesia’ dengan menu andalan mie ayam. Tentu saja kami menyambut dengan antusias ajakan ini. Lokasinya terletak di daerah Ajyad, bersebelahan dengan Elaf Ajyad hotel, namun kami lupa nama hotelnya. Sebenarnya itu adalah restaurant hotel, namun pada jam diluar jam sarapan, restoran tersebut terbuka untuk umum kemudian menawarkan berbagai menu Indonesia. Kami memilih menu nasi goreng, mie ayam, siomay, serta memesan 1 es campur. Rasanya??? Hmmm, tidak bisa dikatakan otentik Indonesia, namun cukup membuat kami kenyang karena saat siang hanya makan shawarma udang. Hehe…
Saat membayar makanan di sini, saya menggunakan
lembaran uang 100 SAR cetakan lama, ‘uang saku’ dari tante Dian. Sempat
khawatir kalau uang tersebut sudah tidak berlaku, namun pramusaji yang menerima
pembayaran mengatakan kalau ya itu memang uang lama tapi mereka masih bisa menerima.
Alhamdulillah.

Yang penasaran dengan Deden, ini diaaaa...
Ternyata benar apa yang dikatakan oleh teman-teman di komunitas Umrah Mandiri. Banyak hotel di area Ajyad yang meskipun jarak yang tertera di peta/google maps terlihat dekat, namun perlu berhati-hati untuk memastikan bagaimana rute dari dan menuju Masjidil Haram. Apakah datar saja, atau ada naik turun yang cukup curam. Karena hotel tempat kami makan tersebut, sepertinya terletak di salah satu bukit, yang untuk mencapainya lumayan membuat ngosngosan. Deden bilangnya dekat, tapi sepertinya standar Deden sudah jauh berubah, sudah berhasil beradaptasi dengan lingkungan di KSA, sudah terbiasa berjalan jauh, sehingga apa yang dia bilang dekat, adalah dekat versinya dan versi orang Arab pada umumnya. Tidak terbayang jika setiap harinya harus melalui jalan itu untuk mencapai Masjidil Haram.
Lagi-lagi kami makin bersyukur memilih hotel di area misfalah karena jalannya cukup datar, meskipun banyak yang bilang lokasinya agak jauh dan kurang populer bagi warga Indonesia.
"Alhamdulillah,.. Makin hari makin terasa bahwa nikmat Allah SWT sungguh luar biasa"












Comments
Post a Comment
Speak Up...!!! :D