Catatan Perjalanan: 2 April 2025
Setelah semalam suntuk menahan gelisah, tidur tidak nyenyak, terbangun beberapa kali sambil melihat jam yang senantiasa berdetak tanpa henti, saya memutuskan untuk beranjak dari kasur pada jam 3 pagi. Ternyata kebiasaan saya sejak kecil masih sama. Jika akan menghadapi sesuatu yang besar atau penting keesokan harinya, maka bisa dipastikan saya tidak akan bisa tidur dengan nyenyak malam sebelumnya. Dan ya, inilah yang terjadi pada malam itu.
Seingat saya, semua hal yang harus dipersiapkan sudah saya selesaikan pada malam sebelumnya. Sebuah koper ukuran 24” dan dua buah koper ukuran 20” yang sudah rapi tertutup dan tercover telah menanti di kamar sebelah yang sejak beberapa hari yang lalu kami ubah menjadi ruang packing. Ternyata butuh waktu cukup panjang untuk mempersiapkan banyak hal. Tidak seperti bepergian sebelumnya yang biasanya hanya membutuhkan sekitar 1-2 jam untuk packing, persiapan perjalanan kali ini memakan waktu berhari-hari. Mungkin karena memang pikiran terbagi-bagi, dan menyiapkan berbagai barang yang akan dibawa juga nyicil. Daftar barang bawaan yang sebelumnya sudah saya tulis cukup membantu, meskipun otak manusia sangat suka berkreasi dan berimprovisasi, ada saja hal-hal yang sebelumnya tidak terpikir seketika berubah menjadi ‘sepertinya perlu ya untuk dibawa’. Hmmm
Pagi itu saya sempatkan untuk sarapan, anggap saja seperti sahur di bulan Ramadhan yang memang baru saja berlalu. Berempat, saya, Mas, Tante Dian, dan Mbak Lia, agak memaksakan diri untuk makan di pagi buta itu karena bekal yang saya siapkan memang hanya untuk makan siang. Pagi itu kami akan melakukan perjalanan yang cukup panjang meskipun berbeda arah. Tante Dian dan Mbak Lia akan kembali ke Gresik (via Surabaya, ke timur), sedangkan saya dan Mas akan melakukan perjalanan ke barat. Kami berpisah di stasiun Yogyakarta. Alhamdulillah, Allah SWT mudahkan untuk mendapat jadwal dengan waktu berdekatan, sehingga kami bisa bersama-sama menuju stasiun dengan selisih waktu keberangkatan kereta hanya 15 menit saja.
![]() |
| kepagian banget ke stasiun sampai sempat coba kursi pijat |
Setelah melepas kepergian Tante Dian dan Mbak Lia, kami segera beranjak ke kereta yang akan kami tumpangi, Fajar Utama YK, yang terletak di peron sebelah. Sempat tersasar saat mencari gerbong yang kami maksud, akhirnya sampai juga di kursi 9C dan 9D, gerbong Eksekutif 2.
Selama 7 jam 20 menit di dalam kereta, apa saja yang kami lakukan? Ngobrol, makan, ngaji, lihat pemandangan, foto-foto, teleponan dengan Mama, Papa, chat via WA dengan Kakak, mencoba untuk tidur namun selalu gagal, sholat dhuhur jamak taqdim qoshor dengan ashar di musholla kereta, makan lagi, ngobrol lagi, foto-foto lagi. Meskipun sudah membawa beberapa bekal makanan dan snack, tetap saja perjalanan duduk-diam-menunggu itu membuat lapar. Buktinya apa? Kami sempat memesan nasi goreng 1 porsi untuk dimakan berdua, yang rasanya, yah, begitulah. Alhamdulillah, setelah berjibaku dengan kejenuhan dan detak jantung yang terus menerus mendominasi, kereta akhirnya sampai di Stasiun Pasarsenen Jakarta dengan tepat waktu.
“Mas, adek degdegan…” salah satu upaya saya agar bisa lebih tenang.
“Mas enggak, biasa aja. “ errr… ternyata sama sekali tidak membantu.
Kalian tahu apa yang kemudian kami lakukan begitu tiba di stasiun? Masuk ke restoran Solaria untuk beli nasi goreng (lagi!!!). Sebagai penggemar nasi goreng garis keras, Mas kecewa dengan nasi goreng KAI jadi butuh makan lagi menu yang sama sebagai pengganti yang tadi katanya. Bhaiklah. Untungnya beliau setuju untuk take away saja, karena saya akan makin tidak bisa tenang jika kita harus duduk lama di restoran sementara perjalanan masih panjang dan kita tidak boleh terlambat. Mas setuju. Kami segera memesan taksi Bluebird begitu nasi goreng seafood take away sudah di tangan.
Jakarta lengang, ini baru h+2 Idul Fitri, yang mana sebagian besar penduduk Jakarta mungkin masih sibuk di kampung halaman masing-masing, menikmati makanan khas daerah yang selalu dirindukan setiap tahunnya, bertemu dengan sanak keluarga dan kerabat yang mungkin juga hanya bisa ditemui setahun sekali, atau sekadar menikmati liburan dengan aktifitas yang jauh berbeda dari hari-hari biasa. Sedangkan kami berdua? Secara sukarela dan penuh keikhlasan melewatkan semua momen itu di tahun ini, demi perjalanan yang sudah kami rencanakan sejak beberapa waktu yang lalu.
Tiba di Bandara Soekarno-Hatta terminal 3 dalam waktu yang ‘sangat aman’. Buktinya apa? Counter check in untuk penerbangan kami belum dibuka, masih tiga puluh menit lagi infonya. Kami kemudian memutuskan untuk makan nasi goreng yang sudah dibeli tadi, sambil berusaha mencari tempat duduk yang terhindar dari blower AC yang sangat kencang itu. Begitu terlihat antrean mulai mengular di depan counter tempat saya bertanya, kami buru-buru ikut di belakang antrean dan sesaat kemudian proses check in dimulai.
Deg-degannya masih? Sangattt. Justru ini adalah bagian yang paling menegangkan menurut saya. Sangat bisa dimaklumi karena ini adalah perjalanan pertama saya dan Mas ke luar negeri, dan kami hanya menjalaninya berdua saja. Benar-benar hanya berdua. Saat semua dokumen diperiksa; tiket PP, paspor, visa negara tujuan serta dokumen penunjang lainnya dicek, ada kekhawatiran bahwa prosesnya akan sulit meskipun kami sudah berupaya semaksimal mungkin untuk mengikuti prosedur yang ada. Alhamdulillah, ternyata semua kekacauan itu hanya terjadi di otak saya, karena proses check in berlalu begitu saja tanpa kendala, menyisakan sebuah koper kabin ukuran 20” yang memang tidak kami masukkan dalam checked baggage karena kebutuhan di negara transit nantinya.
Ada satu hal yang kami benar-benar terlupa dan baru ingat saat h-3 keberangkatan: bekal uang cash negara tujuan. Waktu yang sangat terlambat untuk menukar uang karena sudah masuk dalam hari tenang libur Idul Fitri. Saya sudah mencoba ke beberapa money changer termasuk ke kantor pos yang ternyata masih buka untuk pengiriman barang namun untuk penukaran mata uang asing sudah tutup. Ternyata hasilnya nihil semua. Akhirnya kami berpasrah kepada Allah SWT, dan berharap penukaran uang di bandara tersedia meskipun dengan kurs selangit. Alhamdulillah, setelah proses check in, sebelum masuk ke security check, kami singgah sebentar di beberapa tempat penukaran mata uang asing dan berhasil menukarkan beberapa lembar rupiah. Minimal cukup untuk ongkos perjalanan dari bandara menuju hotel, begitu info salah seorang teman.
Yang tidak terduga justru kejadian kemudian. Setelah koper kabin kami melewati conveyor belt untuk security check, salah seorang petugas membawa koper tersebut sambil menanyakan pemiliknya. Sontak kami terkejut dan segera mengikuti petugas yang mengarahkan kami ke salah satu meja kosong di seberang. Dengan perintah sederhana petugas tersebut meminta kami untuk membuka koper. Saya panik, khawatir ada barang yang tidak seharusnya, meskipun dengan penuh keyakinan tidak ada yang salah saat proses packing semalam. Dengan tergesa saya membuka koper, dibantu oleh Mas yang meskipun terlihat tenang tapi tampak juga sekelebat khawatirnya.
Begitu koper terbuka sempurna, petugas tersebut langsung menunjuk sebuah tas kecil bertuliskan ‘washbag’ berwarna putih dengan plastik transparan di tengah dan meminta kami membukanya. Sesaat kemudian, ‘tersangka’ yang membuat alarm security check menyala itu tampak, yakni sebuah pasta gigi dengan ukuran 180mL yang kami letakkan bersamaan dengan semua bekal peralatan mandi yang kami bawa.
“Ini tidak boleh masuk bagasi kabin ya, harus masuk bagasi terdaftar karena termasuk cairan dan beratnya lebih dari 100mL”, infonya.
Sebenarnya kami sudah tahu mengenai aturan ini, bahwa cairan yang dibawa di kabin per kemasan tidak boleh melebihi 100mL untuk penerbangan internasional. Saya sudah mengantisipasi semuanya, termasuk sabun cuci muka, shampoo, peralatan skin care yang berbentuk cairan semua sudah kami bawa dalam travel size. Namun memang sempat terjadi kebingungan terkait pasta gigi ini, apakah termasuk cairan atau non cairan. Entah karena tidak sempat mencari tahu lebih lanjut, ditambah ada kebutuhan untuk mandi dan bersih-bersih di negara transit sebelum melanjutkan penerbangan, serta kami yang selalu membeli pasta gigi ini dalam ukuran besar karena dipakai berdua, dan ini merupakan pasta gigi yang hanya bisa dibeli secara online, jadi saya sama sekali tidak terpikir untuk membeli lagi dalam bentuk travel size karena stoknya masih banyak di rumah. Pasta gigi yang kami bawa ini masih benar-benar baru, utuh, dan kemasannya besar. Dengan segala pertimbangan itu dan dengan kesadaran penuh, saya meletakkan pasta gigi itu dalam bagasi kabin yang ternyata kemudian bermasalah.
“Ohh, ternyata pasta gigi termasuk cairan ya?” pertanyaan bodoh macam apa ini? Saya mengikik dalam hati, meskipun masih takut-takut juga.
“Ya, pasta gigi masuk ke dalam cairan, gel lebih tepatnya. Jadi tidak bisa dibawa masuk ke dalam kabin pesawat”, jawab petugas diplomatis.
“Solusinya bagaimana ya, Pak?” tanya kami lagi.
“Bisa dimasukkan ke dalam bagasi terdaftar kalau kapasitasnya masih tersedia,”
“Oh bisa ya? Berarti barang kami tadi bisa kami ambil kembali, lalu kami simpan pasta gigi ini, begitu?” tanyaku polos.
“Tidak, bukan begitu. Barang yang sudah masuk checked baggage tidak bisa diambil lagi. Jadi hanya pasta gigi ini saja yang dimasukkan. Mungkin bisa dipacking terlebih dahulu supaya aman …”
Otak kami berpikir cepat. Harus packing lagi, kembali ke counter check in yang lumayan jauh, lalu mengulang security check dan lain sebagainya, akhirnya kami menyerah setelah saling bersepakat.
“Ya sudah Pak, kami tinggal saja …”
Bapak petugas mengangguk kemudian segera mengamankan pasta gigi yang masih utuh itu, dan mempersilakan kami untuk mengemasi koper kembali.
Belakangan kami baru berpikir setelah situasi normal dan panik hilang, kenapa tadi tidak ada opsi untuk membuang sebagian isi pasta gigi itu supaya tidak lebih dari 100mL ya? Entahlah, otak manusia saat panik memang tidak bisa berpikir dengan jernih. Baiklah kalau begitu, mungkin ini akan jadi rejeki toko di tempat tujuan kami nanti untuk bisa membeli pasta gigi di sana.
--
Gerbang Imigrasi kami lalui tanpa kendala berarti karena di negara sendiri bisa menggunakan autogate. Gate keberangkatan kami yang terletak paling ujung, gate 1A, membuat kami harus berjalan cukup jauh. Beruntungnya kami bisa berjalan dengan santai karena proses boarding masih sekitar satu setengah jam lagi.
![]() |
| semenjak perjalanan itu Mas jadi jago selfie. hehe.. |
Begitu tiba di ruang tunggu, waktu sudah memasuki maghrib. Karena ingin memanfaatkan dengan sebaik-baiknya dan tidak tergesa, kami segerakan untuk sholat jama’ qashar taqdim maghrib dan isya dalam satu waktu. Dari jendela ruang tunggu tampak cuaca di luar sedang hujan, terselip doa agar penerbangan malam ini lancar, dan semua penumpang dengan tujuan mana pun dapat tiba dengan selamat tanpa kurang suatu apa pun.
Tepat jam 19.30 gate dibuka, dan semua penumpang dengan kode penerbangan MH724 tujuan Kuala Lumpur memulai proses boarding. Entah kenapa saat mendengar awak kabin yang dengan ramahnya menyapa para penumpang dengan bahasa melayu menurut saya sangat sopan dan nyaman terdengar di telinga, berpadu dengan speaker yang cukup jernih, tidak seperti maskapai dalam negeri pada umumnya yang cenderung terdengar sengau.
Alhamdulillah,.. hampir setengah perjalanan telah terlalui dengan lancar, nyaris tanpa kendala kecuali perkara pasta gigi. Tak henti hati ini berucap syukur, sambil senantiasa berdoa memohon petunjuk kepada Allah SWT.
Pesawat lepas landas tepat waktu, tidak lama setelah tanda sabuk pengaman boleh dilepas, awak kabin langsung tampak sibuk membagikan meals on board, sesuatu yang sangat saya rindukan karena sudah lama sekali rasanya tidak merasakan makan di dalam pesawat, yang entah kenapa menurut saya tidak pernah gagal—meskipun selama ini baru Garuda Indonesia dan Sriwijaya Air saja yang pernah saya coba makanannya. Sebenarnya ini juga salah satu alasan mengapa saya kekeuh memilih penerbangan fullservice, pengalaman yang didapat sungguh luar biasa, meskipun selalu ada harga yang harus dibayar untuk segala kenyamanan itu.
![]() |
| nasi ayam dan nasi ikan, pilihan menu makan malam itu |
Segala sesuatunya berjalan dengan sangat lancar, di ketibaan Terminal 1 Kuala Lumpur, setelah bertanya ke petugas apakah paspor Indonesia bisa melalui autogate yang ternyata jawabannya adalah tidak, kami akhirnya menyadari bahwan paspor Indonesia hanya ‘jago kandang’. Bahkan di negara tetangga yang notabene masih dalam satu regional, kita warga negara Indonesia tercinta harus melalui pemeriksaan imigrasi secara manual. Tak apalah, hitung-hitung menambah koleksi stampel di paspor yang memang masih sangat polos itu. Kami sengaja memilih penerbangan dengan transit yang cukup lama, sekitar 15 jam 50 menit dengan pertimbangan fisik yang telah melakukan perjalanan dengan kereta dari Jogja selama tujuh jam lebih kemudian dilanjut dengan perjalanan menggunakan pesawat dengan durasi dua jam lebih yang tentunya butuh istirahat.
Benar saja, h-1 keberangkatan, keluarga di Selangor kembali menelepon dan mengatakan bahwa dirinya sudah berada di Selangor. Ia sengaja pulang terlebih dahulu ke kota sedang suaminya masih di kampung dengan pertimbangan ingin menyambut kami, sebagai bentuk terima kasih juga atas jamuan kami saat beberapa tahun lalu ia dan keluarga besarnya liburan di Jogja. Tentunya kami sangat terharu, sampai sebegitu besar pengorbanannya. Kami sangat berterima kasih, dan saya pribadi juga bersyukur membatalkan rencana untuk booking hotel.
Namun ternyata setelah kami jalani, situasinya tidak sesederhana itu. Pesawat yang kami tumpangi landing jam 11 malam di KLIA T1. Setelah melalui proses imigrasi dan lain-lain, sekitar hampir jam 12 malam kami baru sampai di drop zone ketibaan antar bangsa. Langsung saja saya melakukan booking taksi melalui aplikasi grab dengan memasukkan alamat yang sudah dibagikan sebelumnya. Tak lupa saya juga mengisi saldo grabpay untuk pembayaran taksi setelah sebelumnya cek tarif. Namun ternyata setelah mencoba berulang kali, tidak ada driver yang bersedia mengambil orderan kami. Bukan hanya kami, di lokasi yang sama tampak beberapa orang juga sedang sibuk dengan handphonenya, sambil memantau kalau-kalau orderannya tertangkap oleh driver grab, yang ternyata hasilnya nihil.
Kami kemudian mencoba bertanya mengenai tarif taksi bandara dengan menunjukkan alamat yang dimaksud, dan tarif yang disampaikan oleh petugas taksi adalah dua kali lipat dari tarif grabcar yang tercantum di aplikasi. Kami memutuskan untuk membatalkannya.
“Mas, coba cari hotel kapsul yuk, di sini ada harusnya,” saya mengingat hasil browsing mengenai penginapan di KLIA T1. Kami kemudian memutuskan untuk menghapus opsi pergi ke tempat saudara dan memilih mencari penginapan. Setelah bertanya ke sana kemari sambil membaca papan petunjuk, tibalah kami di Kepler, KLIA T1 yang terletak di Level 2. Ada beberapa antrean untuk check in, begitu tiba giliran kami, saya langsung bertanya mengenai tarif menginap dengan detail. Teryata di hotel kapsul dikenakan tarif per jam yang mana itu menjadi sangat mahal jika dikalkulasikan total, apalagi untuk 2 orang. Petugas di resepsionis menyampaikan kalau ada diskon khusus untuk yang menginap dengan durasi 24 jam. Saya sampaikan secara lugas bahwa kami tidak butuh 24 jam, hanya beberapa jam saja tapi tetap saja menurut kami terlalu mahal. Opsi hotel kapsul kembali kami coret.
Dari tempat mencari taksi tadi, dan tidak jauh dari Kepler, terdapat papan petunjuk arah menuju Sama-sama Hotel. Saya juga ingat bahwa hotel ini merupakan salah satu opsi hotel transit yang bisa digunakan di KLIA. Lokasinya masih satu area dan tidak membutuhkan transportasi khusus, meskipun kami harus berjalan cukup jauh melewati jembatan penyeberangan khusus menuju hotel tersebut. Begitu masuk ke lobby hotel, kesan yang saya tangkap adalah hotel ini terlalu mewah. Sepertinya harga sewa kamarnya juga akan tinggi, namun di sisi lain saya masih optimis. Barangkali dengan check in tengah malam kami bisa mendapat harga khusus.
Begitu tiba di resepsionis, saya langsung bertanya mengenai tarif hotel dan menjelaskan maksud kami untuk menginap satu malam saja. Resepsionis tersebut langsung menginfokan tarifnya yang mana benar-benar diluar anggaran kami. Saya kembali bertanya, tidak adakah tarif khusus karena kami check in tengah malam, atau mungkin ada tarif per jam? Mereka jawab tidak ada. Mereka hanya bisa memberikan free breakfast sebagai bentuk ‘diskon’, yang mana itu tetap saja mahal menurut saya. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke gedung utama KLIA T1.
Entah apa yang menuntun langkah kami ditengah kelelahan dan rasa kantuk yang mulai mendera, secara tidak sadar kami tiba di level dasar, tempat dimana banyak bus berada. Di situ, kami melihat berbagai tujuan bus yang menunjukkan beberapa titik kota besar di sekitar bandara. Seketika Mas berkata,
“Coba Dek, tanya ke petugas. Tunjukin alamat saudara yang di Selangor itu, siapa tahu ada bus ke arah sana.”
Saya yang mendengar ide itu seketika bersemangat dan bertanya ke petugas yang terletak di tengah ‘terminal mini’ itu. Ternyata rute yang kami maksud busnya tidak ada. Kalau pun tetap ingin ke sana, harus mengambil bus jurusan berbeda dan berhenti di titik tertentu kemudian lanjut dengan taksi dan di jam sekarang ini, sama seperti sebelumnya, taksi agak sulit di dapat.
Saya hanya bisa menghela napas dan mencoba untuk tetap berpikir positif. Dengan semangat yang tersisa setipis tisu, saya kembali bertanya.
“Kalau bus ke KLIA T2, apakah ada?”
Mendengar pertanyaan ini, petugas tersebut langsung menjawab dengan lantang.
“Ada free shuttle ke KLIA 2, anda tinggal menyeberang jalan ini saja dan berbelok ke kanan, di sana ada busnya yang sedang menunggu,” jawabnya lantang sambil menunjuk jalan besar di samping pintu keluar terminal. Mata saya langsung berbinar.
“Free shuttle?” tanya saya memastikan lagi. Seingat saya, hasil browsing yang saya lakukan sebelumnya hanya menginformasikan MRT untuk transportasi dari KLIA T1 ke T2, selain taksi. Itu pun jamnya juga terbatas dan harus booking lebih dulu. Ternyata ada free shuttle! Benar-benar kabar yang membahagiakan.
"Ya, free shuttle. 24 jam. Segeralah ke sana, sebentar lagi jadwalnya berangkat.”
Saya segera mengajak Mas untuk bergegas yang tadinya tengah duduk mengistirahatkan kaki di ruang tunggu. Begitu menyeberang jalan, tampak dari jauh bus yang sedang parkir dengan seorang petugas berseragam sedang duduk di meja samping parkiran bus.
“Kita ke Terminal 2 ya, adek ingat ada hotel murah di sana,” tegas saya sambil berjalan dengan cepat tanpa minta persetujuan. Untungnya Mas menurut saja.
Begitu masuk bus, saya kembali memastikan ke sopir yang sudah duduk di singgahsananya.
“Ke terminal 2?”
Ia hanya mengangguk. Dan itu sudah sangat cukup.
Kami segera duduk di bus yang lengang itu. hanya ada satu orang sebagai penumpang, tiga dengan kami, empat dengan sopir. Tak berselang lama, bus mulai berjalan.
Begitu tiba di terminal 2 yang ternyata tidak kalah lengang karena sudah hampir jam 1 pagi, saya segera bertanya ke petugas terdekat yang kami temui.
“Di mana Tune Hotel?”
Dengan ramah petugas itu menunjukkan bahwa lokasi Tune Hotel sebenarnya tepat berada di belakang kami namun kami tidak diperkenankan menyeberang jalan sembarangan. Petugas tersebut kemudian mengantar kami ke lift terdekat, menginfokan kalau kami harus naik 1 level, kemudian ikuti petunjuk arah melewati jembatan penyeberangan yang akan mengantarkan kami tepat di depan Tune Hotel. Kami menurut dan segera bergegas.
Langkah kami kembali bersemangat, Alhamdulillah, Allah SWT beri petunjuk dari arah yang tidak terduga di waktu yang tepat. Begitu tiba di lobby, tampak resepsionis sedang sibuk melayani beberapa tamu. Di jam itu, ternyata cukup sibuk dan banyak juga tamu yang baru datang. Seingat saya, Tune Hotel memang menjadi hotel transit yang paling direkomendasi saat transit di KLIA. Sayangnya, lokasinya yang berada di terminal 2 terkadang membuat orang enggan, terutama yang melakukan penerbangan datang dan berangkat dari T1.
Begitu giliran kami tiba, kami kembali bertanya mengenai tarif hotel. Alhamdulillah, meski lebih mahal dari ongkos taksi bandara, namun tarif hotel di sini jauh lebih murah dari dua hotel sebelumnya yang kami datangi. Tanpa pikir panjang kami memutuskan untuk menginap di hotel ini.
Proses check in berlangsung singkat. Setelah pengecekan paspor dan pembayaran, resepsionis menjelaskan letak kamar, fasilitas di dalam kamar yang tidak tersedia telepon namun ada QRcode yang bisa discan untuk nantinya terhubung melalui aplikasi pesan singkat dengan customer service hotel, serta menanyakan kepada kami apakah membutuhkan free shuttle menuju Terminal 1 untuk penerbangan selanjutnya. Segera saja saya menyampaikan kami akan menggunakan fasilitas itu dan tak lupa mengisi daftar nama penumpang dan akan ikut pemberangkatan di jam berapa. Meskipun saya sedikit kesulitan memahami bahasa Inggris sang resepsionis karena bicaranya yang terlalu cepat serta pengucapannya yang kurang jelas—mungkin ia sudah mengantuk karena ini memang jam tidur, saya sangat berterima kasih atas pelayanan yang baik serta penjelasan yang sangat lengkap. Segera kami beranjak menuju kamar yang dimaksud dan berisitirahat dengan nyaman.
Begitu sampai di kamar, Mas mengabarkan kepada saudara bahwa kami tidak jadi ke Selangor dan sudah memilih untuk menginap di hotel. Tidak butuh waktu lama untuk kami kemudian terlelap.
Allah,.. setelah segala hal yang kami lalui hari ini, alhamdulillah, dengan izin dan petunjukMu kami bisa istirahat dengan nyaman malam ini.









Comments
Post a Comment
Speak Up...!!! :D